Namun demikian, perubahan outlook mencerminkan adanya perhatian dari Moody’s dan Fitch terhadap prospek fiskal Indonesia serta pentingnya penguatan koordinasi kebijakan ke depan.
Josua menambahkan, kondisi fiskal Indonesia sejauh ini masih relatif terkendali. Berdasarkan data realisasi APBN hingga Februari, defisit anggaran tercatat sekitar 0,53% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Meski demikian, pemerintah dinilai perlu meningkatkan kualitas penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan, untuk memperkuat posisi fiskal ke depan.
"Pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup lebar, sehingga untuk bisa menjaga tadi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik," tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sekaligus mempertahankan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) di level ‘BBB’, menurut laporan yang dirilis lembaga pemeringkat tersebut pada Rabu (4/3/2026).
Sebulan sebelumnya, Moody's Ratings lebih dulu menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat utang RI di level Baa2, peringkat investment grade dengan risiko menengah.
Keputusan revisi outlook kedua lembaga pemeringkat ini terjadi menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta lemahnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia, terutama di tengah kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan.
(ell)


























