“Ini membuktikan premis kita mendirikan Danantara ini, bahwa tidak mungkin satu manajemen yang baik kalau tidak berada dalam satu kendali, satu tangan, dan satu manajemen,” ujarnya.
Prabowo mengungkapkan sebelumnya ia mengira jumlah perusahaan negara yang harus dikelola sekitar 250 entitas. Namun setelah ditelusuri, jumlahnya ternyata mencapai lebih dari seribu perusahaan jika termasuk anak, cucu, hingga cicit perusahaan.
“Tidak mungkin kita mengelola 250 perusahaan. Bahkan ternyata saya baru tahu bukan 250, tetapi lebih dari seribu perusahaan. Tidak ada pelajaran manajemen di mana pun di dunia bahwa satu manajemen bisa mengelola seribu entitas,” jelasnya.
Ia juga menyoroti sejarah pembentukan perusahaan negara sejak awal kemerdekaan yang bertujuan membangun industri strategis nasional, mulai dari industri tekstil, kertas, hingga farmasi.
Namun seiring waktu, banyak BUMN berkembang dengan membentuk berbagai anak perusahaan yang jumlahnya semakin besar.
Ia mencontohkan PT Pertamina (Persero) yang disebut memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan. Prabowo menilai konsolidasi manajemen melalui Danantara diperlukan agar pengelolaan aset negara lebih efisien dan transparan.
“Anehnya lagi, ada peraturan yang lebih aneh: kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya cucu perusahaan tidak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?” papar Presiden.
Dengan kondisi tersebut, Presiden Prabowo semakin yakin bahwa pendirian Danantara merupakan langkah yang tepat, terutama untuk mengamankan aset-aset negara yang sangat besar dan tersebar di berbagai BUMN.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian saat ini masih jauh dari target ideal yang ingin dicapai pemerintah. Menurutnya, perusahaan yang sehat seharusnya memiliki tingkat pengembalian aset minimal 10 persen.
“Perusahaan yang baik, return on asset-nya harus minimal 10 persen. Kalau yang bagus 12 persen, yang hebat 15 persen. Kita harus memiliki target yang bagus, yaitu 10 persen,” terangnya.
Prabowo menambahkan bahwa jika tingkat pengembalian aset Danantara mencapai 5 persen saja, lembaga tersebut berpotensi menyumbang sekitar US$50 miliar atau sekitar Rp800 triliun per tahun kepada negara.
Karena itu, ia meminta jajaran pimpinan Danantara terus meningkatkan kinerja pengelolaan aset negara ke depan.
“Pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh. Tapi tidak mengapa. Saya yakin dan percaya, kunci dari manajemen yang baik adalah di hati dan di jiwa,” pungkasnya.
(red)































