Logo Bloomberg Technoz

“Ketidakstabilan geopolitik saat ini memperlihatkan kerentanan yang jelas dalam rantai pasokan yang sudah terkonsentrasi,” kata David Cachot, direktur riset di Wood Mackenzie Ltd.

“Gangguan terhadap arus masuk pakan pelet atau ekspor pelet dari fasilitas-fasilitas ini akan dengan cepat berdampak luas” pada sektor DRI, katanya.

Kapal Diserang

Data Kpler menunjukkan kapal Cape Shangrila milik Anglo mengubah haluan dari Bahrain ke Singapura, sementara Cape Jasmine sekarang menuju Vietnam alih-alih Bahrain dan Mineral Zimbabwe telah beralih dari Oman ke Qingdao di China.

Dua kapal Vale yang menuju Oman juga telah dialihkan, masing-masing ke China dan Malaysia.

Anglo dan Vale tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kapal-kapal lain terpaksa menghentikan perjalanan mereka di luar Teluk Arab, menurut data Kpler.

Pengalihan tersebut menggarisbawahi bagaimana perang mengacaukan arus perdagangan di pasar komoditas.

Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti karena serangan Iran terhadap kapal-kapal dalam beberapa hari sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara tersebut.

Macquarie Group memperkirakan produksi DRI di seluruh negara Teluk mencapai sekitar 14 juta ton pada 2025.

Bahrain adalah importir bahan baku pelet dan eksportir pelet utama, sementara Oman adalah eksportir pelet yang lebih besar dengan pabrik Vale yang berbasis di Sohar.

“Perang di Timur Tengah telah secara signifikan memperketat pasokan pelet bijih besi,” kata analis Kpler, Alexis Ellender, dengan implikasi bagi produsen baja di pasar terbesar di dunia.

“China telah kehilangan 10 juta ton pelet bijih besi per tahun yang diperolehnya dari Iran, dan produksi pelet di Bahrain dan Oman terancam,” katanya.

Harga acuan berjangka bijih besi naik hingga 1,3% menjadi US$105,55/ton di Singapura, tertinggi sejak pertengahan Januari.

Kenaikan tarif pengiriman dan bahan bakar akibat perang juga telah meningkatkan biaya pengiriman.

(bbn)

No more pages