Rudal-rudal tersebut, termasuk senjata serang jarak jauh seperti Tomahawk, tidak diproduksi dalam jumlah massal. Hal ini berarti dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kembali stok persenjataan yang habis hanya dalam hitungan hari.
Rheinmetall memandang situasi ini sebagai peluang untuk memasok kembali stok rudal AS melalui komponen seperti motor roket berbahan padat. Beberapa sistem pertahanan udara Rheinmetall sendiri sudah beroperasi di kawasan Timur Tengah. Perusahaan tersebut mengeklaim sistem pertahanan berbasis meriam miliknya adalah "solusi ideal untuk melindungi aset berharga dengan biaya yang lebih berkelanjutan."
Memasuki minggu kedua perang, Iran terpantau masih meluncurkan rudal setiap hari, namun dalam volume yang jauh lebih kecil. AS memperkirakan kemampuan serangan Iran telah berkurang drastis hingga 90%.
Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau di Selat Hormuz, menanggapi laporan bahwa tindakan tersebut sudah dilakukan. Kekhawatiran ini terbukti setelah Angkatan Laut Inggris melaporkan tiga kapal komersial terkena proyektil di selat tersebut dan Teluk Persia pada hari Rabu.
Penutupan total Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dunia, tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
(bbn)





























