Logo Bloomberg Technoz

Jelang libur panjang Lebaran Idul Fitri, sepertinya investor cenderung melakukan trading jangka pendek. Terlebih lagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 per Februari mencatat defisit, dan keseimbangan primer ikut minus. 

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memaparkan, realisasi APBN mencatatkan defisit mencapai sebesar Rp135 triliun atau menyentuh 0,53% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Keseimbangan primer juga tercatat defisit sebesar Rp35,9 triliun.

Dari sisi global, sejatinya sentimen pasar mulai positif. Bursa saham Asia pun mayoritas menguat. 

Weighted Index (Taiwan), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea), TOPIX (Jepang), CSI300 (China), Shenzhen Comp. (China), PSEi (Filipina), KLCI (Malaysia), Shanghai Comp. (China), SETI (Thailand), dan FTSE Straits Times (Singapura), yang masing–masing berhasil menguat 4,1%, 3,08%, 1,43%, 1,4%, 0,94%, 0,64%, 0,52%, 0,52%, 0,42%, 0,25%, 0,11%, dan 0,07%.

Penurunan harga minyak pada Selasa terjadi karena adanya ekspektasi para pemimpin–pemimpin dunia akan melakukan intervensi sebelum guncangan pasokan terburuk benar–benar terjadi.

Ekonom Aditya Bhave mencatat, guncangan energi tidak selalu bersifat hawkish, karena dapat menciptakan ketegangan antara mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung lapangan kerja, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

(fad/aji)

No more pages