Pernyataan Purbaya ini sejalan dengan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian. Ia menyebut nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000/US$ bukan karena perubahan fundamental ekonomi domestik. Sejumlah indikator seperti pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga, inflasi relatif terkendali, serta stabilitas sektor keuangan dinilai masih cukup solid.
"Dalam kondisi shock global seperti sekarang, dengan ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, dan penguatan dolar AS, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Karena itu kita sering melihat rupiah bergerak melemah lebih dulu," kata Fakhrul dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/3/2026).
(roy)
No more pages





























