Beban tersebut terdiri dari beban umum dan administrasi Rp711,57 miliar, beban tenaga kerja Rp440,38 miliar, serta beban kerugian penurunan nilai aset keuangan Rp319,73 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, ekspansi bisnis bank digital tersebut tercermin dari pertumbuhan aset yang signifikan.
Total aset Super Bank melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp21,28 triliun pada 2025, dibandingkan Rp11,39 triliun pada tahun sebelumnya atau meningkat sekitar 86,8% yoy.
Pertumbuhan tersebut turut diikuti peningkatan liabilitas dan permodalan. Total liabilitas tercatat Rp13,12 triliun, naik dari Rp6,15 triliun pada 2024, sementara total ekuitas meningkat menjadi Rp8,16 triliun, dari Rp5,25 triliun pada tahun sebelumnya, seiring tambahan modal dari aksi korporasi.
Pada sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) naik menjadi Rp11,83 triliun, dari Rp4,94 triliun pada 2024 atau melonjak sekitar 139,3% yoy, mencerminkan peningkatan kemampuan bank dalam menghimpun dana masyarakat.
Sementara itu, penyaluran kredit turut meningkat menjadi Rp9,62 triliun, dari Rp6,43 triliun pada tahun sebelumnya, atau tumbuh sekitar 49,7% yoy, seiring ekspansi pembiayaan yang dilakukan bank setelah transformasi bisnisnya.
Super Bank sebelumnya melaksanakan IPO pada Desember 2025 dengan menawarkan 4,41 miliar saham kepada publik pada harga Rp635 per saham, sehingga menghimpun dana sekitar Rp2,79 triliun.
Dana tersebut memperkuat struktur permodalan bank untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Ekosistem Grab
Saat gelaran IPO akhir tahun lalu, manajemen SUPA mengatakan kinerja dan pertumbuhan bisnis perseroan masih bergantung pada ekosistem mitra startegis, khususnya Grab.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan mengatakan mayoritas akuisisi nasabah Superbank masih berasal dari ekosistem.
Sekitar 60% akuisisi dilakukan melalui ekosistem mitra, sementara sisanya berasal dari luar ekosistem.
“Jadi kalau kami merasa bahwa sekarang advantage kami adalah di ekosistem betul. Jadi sekitar 60% dari akusisi kami berlangsung di ekosistem. Itu memberikan cost advantage dari cost of acquisition, cost to serve, dan bagaimana engagement -nya dengan nasabah itu menjadi sangat bersatu,” ujar Tigor, Rabu (17/12/2025).
Ia menambahkan bahwa kontribusi dari luar ekosistem juga terus berkembang secara organik melalui berbagai kemitraan lain. Menurutnya, meski ekosistem menjadi pintu masuk utama, pasar di luar ekosistem masih terbuka luas.
“Tetapi kita memang mempunyai 40% yang di luar ekosistem. Dan ini memang berkembang terus, kebanyak secara organik, banyak dengan partnership-partnership yang lain yang di luar ekosistem,” kata Tigor.
Tigor menekankan bahwa Indonesia masih memiliki potensi pasar yang sangat besar di luar ekosistem yang ada saat ini. Dengan jumlah nasabah sekitar 5 juta orang, ruang pertumbuhan dinilai masih luas.
“Nasabah kami itu memang 5 juta nasabah. Tapi masyarakat Indonesia itu sangat-sangat besar. Jadi masih sangat luas sekali kesempatan kami di luar ekosistem itu,” ujarnya.
Ketergantungan Superbank terhadap mitra strategis juga tercantum secara eksplisit dalam prospektus perseroan menjelang IPO. Manajemen menyatakan bahwa operasional dan pertumbuhan bisnis Superbank sangat bergantung pada kemitraan dengan Grab dan OVO, terutama dalam distribusi produk dan akuisisi nasabah.
“Memburuknya hubungan dengan salah satu pihak tersebut dapat berdampak negatif terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasional, dan prospek perseroan,” tulis manajemen dalam prospektusnya.
Selain itu, Superbank juga mengungkapkan adanya potensi risiko apabila terjadi aksi korporasi yang melibatkan mitra strategis. Perseroan menyebut bahwa rencana merger Grab dengan perusahaan lain dapat memengaruhi bisnis Superbank, meskipun dampak pastinya belum dapat ditentukan.
Isu tersebut mengemuka di tengah rumor rencana merger antara Grab Holdings Ltd. dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kembali menguat. Presiden Direktur Superbank menegaskan bahwa perseroan tidak ingin berspekulasi atas isu tersebut.
(fik/naw)



























