Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark

Muslim Modern: Antara Mengejar Sukses atau Mencari Barakah?


Muslim Entrepreneurs (Envato)
Muslim Entrepreneurs (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ramadan sering dipahami sebagai momen untuk memperlambat ritme kehidupan yang lebih banyak refleksi, lebih banyak makna. Namun di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, banyak orang justru menghadapi dilema baru: bagaimana menyeimbangkan ambisi profesional dengan ketenangan batin.

Topik ini menjadi pembahasan menarik dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 Episode 2, ketika Sisi Aspasia dan Winda Mizwar berbincang bersama tokoh inspiratif, Yeni Wahid, pendiri sekaligus Direktur Wahid Foundation. Percakapan tersebut mengangkat fenomena yang semakin banyak dirasakan generasi modern: burnout di tengah budaya produktivitas tanpa henti.

Fenomena ini bukan sekadar isu lokal. Berdasarkan riset global yang sempat dibahas dalam percakapan tersebut, lebih dari 60% pekerja di dunia mengaku mengalami burnout. Banyak orang merasa harus terus bergerak, terus bekerja, dan terus produktif demi mengejar standar kesuksesan yang semakin tinggi.

Di era media sosial dan budaya hustle, kesibukan sering kali dianggap sebagai simbol keberhasilan. Padahal, menurut Yeni Wahid, sibuk tidak selalu berarti produktif.

“Kadang orang hanya mengejar aktivitasnya saja, tetapi dampaknya tidak menjadi fokus,” ujar Yeni dalam perbincangan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari pencapaian material atau jabatan profesional. Yang jauh lebih penting adalah dampak yang dihasilkan—baik untuk diri sendiri, masyarakat, maupun lingkungan yang lebih luas.

Fenomena burnout juga diperparah oleh budaya FOMO (fear of missing out) yang semakin kuat di era digital. Banyak orang merasa harus mengikuti tren tertentu agar tetap dianggap relevan atau sukses. Akibatnya, kehidupan menjadi penuh tekanan.

“Orang merasa kalau tidak mengikuti tren, seolah-olah dia bukan orang yang gaul atau tidak dianggap berhasil,” jelas Yeni.

Dalam kondisi seperti ini, standar kesuksesan pun sering bergeser menjadi sangat materialistik. Ukuran keberhasilan tidak lagi dilihat dari kontribusi atau dampak sosial, tetapi dari simbol-simbol status—mulai dari gaya hidup, barang mewah, hingga citra yang ditampilkan di media sosial.

Namun ironisnya, bahkan setelah seseorang mencapai semua simbol tersebut, sering kali tetap muncul rasa kosong.

“Banyak orang yang mengejar materialisme, tapi ketika sudah sampai di sana tetap terasa kosong,” ungkap Yeni.

Di sinilah konsep barakah menjadi penting dalam cara pandang Islam terhadap kehidupan dan pekerjaan. Barakah bukan sekadar tentang jumlah atau pencapaian yang besar, tetapi tentang kecukupan, kebermanfaatan, dan ketenangan yang menyertai usaha seseorang.

Yeni menekankan bahwa Islam sebenarnya sangat menghargai produktivitas. Banyak tokoh dalam sejarah Islam yang merupakan pekerja keras dan memiliki kontribusi besar dalam masyarakat.

Nabi Muhammad dikenal sebagai pedagang yang aktif, sementara tokoh-tokoh seperti Khadijah dikenal sebagai pengusaha sukses. Namun dalam ajaran Islam, pekerjaan tidak seharusnya menjadi satu-satunya identitas seseorang.

“Pekerjaan itu penting, tetapi tidak seharusnya mendefinisikan seluruh diri kita,” jelasnya.

Dalam konsep Islam, kehidupan manusia memiliki dua dimensi penting: hubungan dengan manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan Tuhan (hablum minallah). Kesuksesan profesional hanya berada pada satu sisi dari keseimbangan tersebut.

Ketika keseimbangan ini hilang, seseorang bisa saja mencapai puncak karier, tetapi tetap merasa lelah secara mental dan emosional.

Percakapan di Ramadan Spark ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin kompetitif, penting bagi setiap individu untuk kembali mendefinisikan makna kesuksesan. Bekerja keras tentu penting, tetapi menemukan makna dan dampak dari pekerjaan tersebut jauh lebih penting.

Ramadan pun menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi tersebut—apakah kita hanya mengejar kesibukan, atau benar-benar membangun kehidupan yang penuh makna dan barakah.

Jangan lewatkan perbincangan lengkap mengenai dilema Muslim modern antara barakah dan burnout dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 Episode 2, hanya di situs Bloomberg Technoz www.bloombergtechnoz.com