"Misalnya, [pasar baru] pada negara-negara yang tidak melalui jalur logistik Timur Tengah dan Mediterania seperti Afrika dan Oceania," tutur Yukki, yang juga Senior Vice President Asosiasi Organisasi Jasa Pengangkutan Global atau FIATA.
Berdasarkan indikator tarif pengiriman global seperti Drewry Container Index dan Shanghai Containerized Freight Index (SCFI), tarif pengangkutan intra-Asia tercatat naik dalam sepekan terakhir masing-masing sekitar 18% dan 11% seiring meningkatnya intensitas konflik di kawasan tersebut.
Yukki menilai, jika gangguan pada jalur logistik berlangsung lama, sejumlah subsektor industri berpotensi terdampak cukup besar, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki rantai distribusi panjang seperti migas, komponen otomotif dan elektronik, serta bahan kimia dasar.
"Artinya, para pelaku logistik baru mulai ‘priced in’ dampak konflik Geopolitik Timur Tengah ini dengan melihat seluruh faktor-faktor operasional atau non-operasional seperti stabilitas nilai tukar," kata Yukki.
"Kami berharap agar pemerintah Indonesia dapat mendorong perdamaian melalui diplomasi G-G yang aktif baik melalui jalur regional ASEAN maupun inter-regional seperti OKI dan APEC."
Minta Insentif
Selain membuka pasar baru, pelaku usaha juga berharap pemerintah memberikan insentif bagi industri logistik untuk menjaga daya saing ekspor serta mengurangi tekanan biaya logistik.
Insentif tersebut dapat berupa subsidi biaya bahan bakar kapal (fuel bunker), pengurangan biaya pelabuhan, hingga pemberian freight rebate bagi perusahaan pengangkutan.
"Kami berharap pemerintah juga dapat memberikan insentif untuk para pelaku usaha jasa pengangkutan logistik," kata dia.
FIATA sendiri telah menginformasikan peringatan (alert) terhadap anggota kami baik perusahaan multinasional maupun asosiasi ogistik terkait dengan situasi dan perkembangan di Selat Hormuz.
Organisasi non-pemerintah tersebut berbasis di Jenewa, Swiss, yang mencakup lebih dari 150 negara anggota, 111 asosiasi logistik global, 6.000 anggota individu, dan lebih dari 40.000 perusahaan multinasional untuk mempromosikan pengiriman barang dan praktik terbaik perusahaan logistik dan forwarder.
(ain)




























