Logo Bloomberg Technoz

Investor yang tetap bertahan tahun ini—untuk saat ini—telah mendapat imbalan berupa imbal hasil yang melebihi pasar. Indeks S&P Global Clean Energy Transition naik lebih dari 6%, dibandingkan dengan penurunan sekitar 1,5% pada Indeks S&P 500. Namun, beberapa minggu dan bulan mendatang tampaknya akan menguji keyakinan mereka.

Gangguan di pasar energi akibat perang Iran tidak hanya mendongkrak harga minyak dan gas—dengan harga minyak kini di atas US$100 per barel untuk kali pertama sejak 2022—tetapi juga menopang bahan bakar fosil yang paling kotor.

BloombergNEF mencatat bahwa setelah berbulan-bulan mengalami tekanan, pembangkit listrik batu bara dan lignit di Eropa kini kembali menguntungkan, sebagai akibat langsung dari lonjakan harga gas.

Pembangkit listrik tenaga batu bara Jerman mendapat manfaat dari peralihan bahan bakar gas ke batu bara. (Bloomberg)

"Harga minyak dan gas alam yang tinggi akan memperkuat pendapatan bahan bakar fosil dalam jangka pendek dan untuk sementara akan mengungguli saham energi bersih,: kata Patrick J. Murphy, direktur eksekutif unit geopolitik di Hilco Global dan mantan wakil menteri pertahanan AS. 

Di sisi lain, bagi investor jangka panjang seperti dana pensiun dan dana kekayaan negara, "tidak diragukan lagi" bahwa mereka akan tetap "sangat berkomitmen pada dekarbonisasi," ujarnya.

Kemandirian Energi

Helen Jewell, Kepala Investasi Ekuitas Fundamental BlackRock, mengatakan, "yang menjadi fokus kami saat ini adalah pentingnya kemandirian energi," yang "sangat krusial," artinya saham-saham yang terkait dengan hal itu akan "berkinerja sangat baik."

"Ketahanan dan kemandirian energi adalah satu hal yang dapat kita pastikan dalam beberapa minggu ke depan," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Senin. "Kebutuhan akan hal itu tetap sangat penting." Jadi, membeli saham energi berkelanjutan dan energi bersih dapat menjadi "bagian inti yang nyata dari portofolio apa pun" saat ini.

Menurut analis, investor, dan manajer dana yang diwawancarai oleh Bloomberg, ada beberapa faktor yang berbeda dibandingkan dengan tahun 2022. Ada bukti bahwa perusahaan hijau telah memperkuat neraca keuangan mereka, menerapkan standar manajemen risiko yang lebih ketat, dan persyaratan pengembalian yang lebih tinggi sebelum memulai proyek baru. 

Carole Laible, CEO Domini Impact Investments, mengatakan bahwa dampak suku bunga mungkin juga kurang terasa saat ini dibandingkan dengan 2022.

"Suku bunga mungkin sedikit lebih tinggi pada 2026, tetapi saya rasa itu tidak cukup untuk memberikan dampak signifikan dalam mendorong proyek-proyek tersebut maju," kata Laible.

Kemudian ada pengembangan energi terbarukan yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya di Jerman, yang mengalami pukulan besar pada 2022 akibat ketergantungannya pada gas Rusia, produksi tenaga surya kini membantu menahan kenaikan harga listrik, meski perang Iran mendorong kenaikan biaya energi global.

Kapasitas pembangunan tenaga surya baru Eropa per tahun, dan perkiraan pertengahan BNEF. (Bloomberg)

Alex Monk, manajer portofolio tim ekuitas sumber daya global di Schroders, mencatat bahwa sektor tenaga angin khususnya sudah jauh lebih disiplin dalam menetapkan ketentuan kontrak "untuk memungkinkan penyesuaian biaya yang lebih besar dan perlindungan inflasi, sehingga tantangan profitabilitas tidak terulang."

Perbedaan kunci lainnya antara sekarang dan 2022 adalah dampak kecerdasan buatan (AI), di mana permintaan energi untuk mendukung pusat data AI memperkuat energi terbarukan.

Dan dengan lanskap geopolitik yang bisa dibilang lebih mengancam sekarang daripada tahun 2022, keamanan energi menjadi tujuan yang semakin mendesak. Artinya, negara-negara yang berhasil mengurangi ketergantungan impor gas dan minyak akan menghadapi lebih sedikit guncangan eksternal terhadap ekonomi mereka.

Aset Energi Teluk Kembali Terkena Serangan. (Bloomberg)

"Kami melihat momen-momen gangguan di pasar energi ini sebagai hal yang baik untuk energi, titik," kata Monk dari Schroders. "Dalam jangka pendek, kami jelas melihat harga komoditas lebih tinggi, dan itu bermanfaat bagi saham energi konvensional, tetapi saya pikir hal itu juga mulai membawa pertanyaan tentang keamanan energi ke benak semua orang."

Banyak investor hijau trauma akibat siklus euforia sebelumnya yang berujung pada kerugian besar. Hal ini terjadi di tengah serangan politik AS terhadap sektor hijau dan gejolak regulasi di Eropa. Namun, setelah penurunan drastis yang berlangsung hingga April tahun lalu, sektor ini menunjukkan tanda-tanda menentang prediksi suram.

"Apa yang terjadi di Timur Tengah sebenarnya mendorong siklus modal baru" investasi di bidang energi terbarukan, kata Monk. Itu "karena orang-orang perlu mulai mempertanyakan keamanan energi, terutama dengan permintaan listrik yang terus meningkat."

Sebagian besar permintaan tersebut berasal dari yang disebut hyperscaler, di mana investasi dalam kapasitas energi untuk mendukung pusat data AI telah menekankan opsi rendah karbon.

"Ketika kita melihat kembali dalam 12 bulan ke depan," pertanyaannya adalah apakah "transformasi yang dibawa AI pada ekonomi kita, atau serangan rudal terhadap Iran akan lebih penting bagi bentuk ekonomi dalam lima tahun ke depan," kata Deirdre Cooper, kepala ekuitas berkelanjutan di Ninety One Plc. "Saya berpendapat yang pertama."

Peningkatan AI sebagai alat perang juga harus menjadi panduan dalam pengambilan keputusan investasi energi, menurut Edward Lees, co-head dari kelompok strategi lingkungan di BNP Paribas Asset Management di London. 

"Tentu saja kita sedang melewati periode volatilitas," katanya. Pada saat yang sama, "aksi militer ini kini menggunakan AI, dan semua peralatannya menggunakan cip, dan karenanya energi," yang merupakan "inti dari banyak area yang kami perhatikan." Karena alasan itu, alokasi BNP untuk aset hijau tetap "secara umum utuh" meski perang Iran telah dimulai.

Indeks Energi Bersih Global S&P sekitar 45% di bawah titik tertinggi sepanjang masa. (Bloomberg)

Transisi energi Eropa telah berkembang dari yang semula terutama agenda lingkungan menjadi "pilar inti otonomi strategis," menurut catatan terbaru kepada klien oleh Allianz Global Investors.

Christoph Berger, kepala investasi ekuitas di Eropa di AllianzGI, mengatakan dia dan timnya telah "melakukan diskusi intensif tentang posisi portofolio" sejak perang Iran meletus.

Kesimpulannya bahwa yang dibutuhkan adalah "penekanan kembali pada posisi eksisting kita" yang memanfaatkan "tren berkelanjutan yang mencegah kita rentan terhadap guncangan pasokan eksternal," kata Berger. Artinya, menggandakan investasi pada jaringan pintar, meteran pintar, dan manajemen energi, di mana "kita memiliki penyedia teknologi utama di Eropa."

Latar belakang perang "mengingatkan kita bahwa kita harus mendesentralisasikan pasokan listrik kita," katanya.

Komentar tersebut sejalan dengan tren yang lebih luas di kalangan investor Eropa untuk mengalokasikan dana sesuai dengan tujuan keamanan blok tersebut. Manajer investasi di seluruh kawasan  berinvestasi besar-besaran dalam aset pertahanan, teknologi strategis, dan energi saat Eropa menghadapi semakin banyak ancaman geopolitik.

Di AllianzGI, "keyakinan utama" adalah mengejar "peta jalan menuju kemandirian Eropa," kata Berger.

Tentu saja, masih banyak ketidakpastian di masa depan, dan Shah di Jefferies mengatakan ada batasan jelas terhadap lonjakan suku bunga yang dapat diserap oleh perusahaan hijau.

Jadi, jika imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik hingga 5%, "maka bisa timbul masalah," katanya.

Jefferies mengatakan 5% bisa menimbulkan masalah bagi investor hijau. (Bloomberg)

(bbn)

No more pages