Sensitivitas Energi
Ketika AS mulai menyerang Iran dan jalur di Selat Hormuz terganggu menyebabkan lonjakan harga minyak, kekhawatiran investor tertuju pada dampaknya terhadap inflasi, defisit transaksi berjalan, dan stabilitas makroekonomi negara pengimpor minyak, yang sebagian besar berada di kawasan Asia ini.
Dalam konteks tersebut, Korea Selatan berada di garis terdepan dengan risiko yang paling besar. Negeri Ginseng itu hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi untuk menopang industri manufakturnya yang jumbo, seperti industri baja, chip, dan petrokimia.
Sedangkan Thailand mengandalkan impor minyak dalam jumlah besar untuk menghidupkan industri transportasinya dan pariwisata. Thailand memang sangat bergantung pada sektor pariwisata, dan tercatat sebagai pengimpor minyak bersih dengan deifisit energi yang relatif besar.
Kondisi Indonesia
Di tengah tekanan harga minyak dunia, rupiah memang tidak kebal terhadap pelemahan. Akan tetapi penurunannya relatif lebih terbatas dibanding beberapa mata uang Asia lainnya.
Setidaknya, meski Indonesia merupakan importir minyak, tapi Indonesia juga merupakan eksportir komoditas energi lainnya seperti batu bara, atau komoditas yang dibutuhkan di pasar global seperti minyak kelapa sawit dan nikel.
Kenaikan harga energi global sering kali diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya, sehingga dampak negatif terhadap neraca perdagangan setidaknya dapat terkompensasi oleh peningkatan pendapatan ekspor.
Selain itu, kebijakan energi domestik bisa memberikan bantalan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Pemerintah RI selama ini masih menggunakan skema subsidi atau pengaturan harga untuk menahan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi domestik.
Meski kebijakan ini tetap memiliki konsekuensi fiskal, mekanisme tersebut membuat transmisi kenaikan harga minyak global ke inflasi domestik tidak terjadi secara langsung.
Apalagi, baru-baru ini Kementerian ESDM menyatakan bahwa harga BBM bersubsidi Pertalite belum naik, setidaknya sampai Lebaran tiba.
Begitu juga strategi stabilitas mata uang yang kerap dilakukan otoritas moneter dengan melakukan operasi pasar, serta menggunakan instrumen lindung nilai seperti DNDF. Langkah ini setidaknya mampu meredam volatilitas yang berlebihan di pasar.
(red/aji)






























