“Keadaan akan berubah cepat bila penutupan Selat Hormuz ini berlanjut dan berlangsung untuk waktu yang lama,” tegas dia.
Arif menyatakan sulfur merupakan bahan baku utama untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian atau leaching pada fasilitas pengolahan dan pemurnian HPAL.
Dia mencatat rata-rata smelter untuk memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 12—13 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Produksi MHP-battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL yang sangat bergantung pada asam sulfat,” tegasnya.
Dalam riset Shanghai Metal Market (SMM), lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sulfur tersebut banyak dimanfaatkan untuk industri pengolahan nikel utamanya smelter hidrometalurgi berbasis HPAL.
Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada sebesar 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia sebesar 146.000 ton, dan Singapura sebesar 115.000 ton.
SMM mencatat pelabuhan ekspor sulfur utama di Timur Tengah, antara lain; Ruwais di UEA, Jubail dan Ras al-Khair di Arab Saudi, Ras Laffan di Qatar, Al Zour dan Shuaiba di Kuwait, dan Bandar Imam Khomeini di Iran harus mengangkut komoditas tersebut melewati Teluk Persia kemudian melalui Selat Hormuz.
Dengan begitu, penutupan Selat Hormuz membuat pasokan sulfur dari pelabuhan tersebut tak dapat dimuat dan diekspor.
“Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada tahun 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM dalam risetnya, dikutip Senin (9/3/2026).
SMM memperkirakan per Januari 2026 bahwa sulfur menyumbang 41% dari biaya produksi MHP. Dengan begitu, jika harga sulfur meningkat gegara gangguan pasokan, biaya produksi bisa meningkat dan menekan margin keuntungan smelter.
Lebih lanjut, SMM memprediksi Indonesia bakal bersaing dengan pembeli global untuk pasokan sulfur dari negara-negara di luar Timur Tengah yang pasokannya cukup terbatas.
Selain itu, kenaikan premi asuransi dan meningkatnya biaya pengiriman akibat pengalihan rute akan semakin mendongkrak landed cost atau total biaya logistik.
“Jika harga sulfur terus naik akibat gangguan pasokan, biaya sulfur dalam produksi MHP juga akan meningkat, menekan margin keuntungan proyek,” tulis SMM.
Pada 2025, sulfur freight on board (FoB) Timur Tengah tercatat sekitar dari sekitar US$170 per dan saat ini telah mengalami kenaikan harga ke level US$520 per metrik ton atau mengalami peningkatan lebih dari 200%.
Argus Media mencatat, harga sulfur FoB Timur Tengah melonjak tajam menyusul eskalasi konflik di Selat Hormuz. Adnoc menetapkan harga resmi Maret di level US$530/ton FoB Ruwais dan QatarEnergy sebesar US$520/ton FoB.
Harga tersebut tercatat mengalami kenaikan dibandingkan harga spot per 26 Februari yang masih berada di rentang US$494-496 per ton FoB—sebelum konflik di Timur Tengah terjadi.
(azr/wdh)

























