Ekspektasi pelonggaran moneter yang mulai memudar menjadi beban bagi gerak harga emas. Perang di Timur Tengah berisiko menyebabkan harga energi dunia melonjak.
Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 85,41/barel. Melonjak 4,93% dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 1 Juli 2024 atau sekira 1,5 tahun terakhir.
Dalam sepekan terakhir, harga si emas hitam meroket hampir 20% secara point-to-point.
Tingginya harga minyak akan membuat harga BBM di banyak negara akan ikut terdongkrak. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat (AS), tidak punya banyak ruang untuk menurunkan suku bunga acuan.
Bahkan bukan tidak mungkin bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan demi menjangkar ekspektasi inflasi.
Di pasar swap, investor memperkirakan The Fed sepertinya hanya bisa menurunkan suku bunga acuan sekali sebesar 25 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Pekan lalu, masih terbuka peluang The Fed memangkas bunga dua kali.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)




























