Sukanto Tanoto, pendiri Royal Golden Eagle, konglomerat manufaktur skala global, juga mencatat penurunan harta kekayaan harian mencapai Rp7,83 triliun dengan total kekayaan menjadi Rp403,97 triliun. Namun memang, berbeda halnya dengan year–to–date, yang justru bertambah 10% mencapai Rp37,18 triliun.
Guncangan juga dialami Low Tuck Kwong yang dengan kekayaannya menjadi Rp324,53 triliun. Menguap Rp4,92 triliun dalam satu hari Bursa, menyeret penurunan Rp47,32 triliun terhadap nilai kekayaannya secara ytd.
Konglomerat lain juga terasa berat, seperti Budi Hartono dan Michael Hartono yang sama–sama terdampak hantaman keras pasar. Kekayaan Budi Hartono menjadi Rp273,82 triliun, menyusut Rp8,94 triliun dalam sehari, hingga mendesak Rp52,39 triliun menguap secara ytd.
Adapun Michael Hartono memiliki nilai kekayaan Rp248,46 triliun, turun Rp8,61 triliun secara harian dan melemah Rp50,7 triliun sepanjang tahun berjalan.
Tekanan harian juga dialami Anthoni Salim dengan penurunan Rp14,75 triliun, secara ytd pun mencatat penurunan Rp20,28 triliun, hingga nilai kekayaannya menjadi Rp248,46 triliun.
Otto Toto Sugiri, salah satu pendiri sekaligus Direktur Utama PT DCI Indonesia Tbk (DCII), penyedia layanan pusat data terbesar di Indonesia, mengalami penurunan harian mencapai Rp10,07 triliun, biarpun sepanjang tahun berjalan masih relatif stabil minus Rp1,77 triliun. Dengan demikian, kekayaannya tercatat Rp Rp148,74 triliun.
(fad/aji)





























