Belum diketahui berapa kapasitas tanker minyak PIS yang terjebak di Selat Hormuz.
Namun, berdasarkan data pelacakan Kpler, saat ini setidaknya terdapat 40 kapal tanker minyak berkapasitas sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) alias supertanker, yang masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dan sedang menunggu di Teluk Persia.
Bahlil juga menjamin terjebaknya tanker PIS tersebut tidak bakal membuat pasokan energi Indonesia menipis. Dia menegaskan Kementerian ESDM sudah menyusun strategi dalam menghadapi kondisi konflik di Timur Tengah tersebut.
Dia meyakini konflik tersebut hanya memberikan dampak terhadap harga minyak dunia sehingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok dalam APBN bakal meleset.
Dengan begitu, Bahlil menegaskan pemerintah sedang mengkalkulasi sebesar apa dampak perang tersebut terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia serta bagaimana dampaknya terhadap subsidi energi Indonesia.
“Aman, aman, aman. Saya meyakinkan, saya meyakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tahu geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tapi untuk kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk ketersediaan BBM dan LPG, insyaallah aman,” ungkap Bahlil.
Terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyatakan perseroan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, guna memastikan keselamatan awak kapal dan aset kapal milik anak perusahaan.
Dia mengungkapkan, sebenarnya terdapat empat tanker milik PIS yang sempat berada di wilayah Selat Hormuz. Akan tetapi, dua di antaranya sudah berada di luar wilayah tersebut.
“Jadi saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada disana. Sampai dengan saat ini kondisi masih aman,” kata Baron kepada awak media, di kawasan Jakarta Pusat, dikutip Rabu (4/3/2026).
Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan kondisi pekerja dan kru kapal yang berada di kawasan Timur Tengah tetap aman di tengah eskalasi konflik di wilayah tersebut.
Terkait dengan operasional armada, PIS melaporkan terdapat empat kapal yang berada di kawasan Timur Tengah, yakni Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman.
Dua kapal masih berada di dalam area teluk, yaitu Pertamina Pride yang dikelola NYK dan Gamsunoro yang dikelola Synergy Ship Management.
PIS menyatakan tengah melakukan koordinasi dengan pengelola kapal dan otoritas maritim setempat guna memastikan keselamatan kru dan kapal serta mengupayakan kapal dapat segera keluar dari area teluk.
PIS turut memiliki kantor cabang di Dubai melalui PIS Middle East (PIS ME) dengan total 30 pekerja beserta keluarga yang tinggal di sana. Perusahaan menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia setempat.
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan kondisi pekerja dan keluarga di Dubai dalam keadaan aman.
“Kondisi para pekerja dan keluarga PIS Middle East saat ini dipastikan dalam kondisi aman, dan perusahaan terus memantau situasi di Dubai,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (1/3/2026).
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia. Sebagai jalur esensial bagi perdagangan energi global, selat ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejak perang pecah Sabtu lalu, kapal-kapal tanker menghindari titik nadi ini karena risiko yang terus meningkat, termasuk ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas.
Puluhan kapal tanker minyak bermuatan penuh berlabuh di Teluk Persia setelah serangan di dekat Selat Hormuz hampir menutup jalur air tersebut, mengganggu logistik regional, memperlambat ekspor, dan mengancam produksi jangka pendek.
(azr/wdh)





























