Untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan meyakinkan investor, dia memberi saran bahwa perusahaan perlu melakukan lebih banyak upaya untuk menilai risiko, melindungi pekerja dan infrastruktur, mendiversifikasi pemasok, dan mengasuransikan diri atas bahaya iklim.
"Perusahaan harus mampu melewati peristiwa cuaca ekstrem dan melanjutkan operasional secepat mungkin," kata Fu pada Selasa. "Mereka yang berinovasi dan beradaptasi akan berkembang di masa depan."
Singapura sedang mengelola kenaikan permukaan laut yang diperkirakan akan mengancam sejumlah real estat paling berharga di kota itu, dan juga suhu tinggi yang diproyeksikan akan memicu kerugian produktivitas tahunan sebesar S$2,2 miliar (US$1,7 miliar) pada tahun 2035.
Kawasan Asia Tenggara yang lebih luas juga menghadapi ancaman yang semakin cepat dari bencana akibat perubahan iklim, ditandai dengan kerugian miliaran dolar selama serangkaian banjir mematikan pada akhir 2025.
Negara ini telah menetapkan 2026 sebagai "tahun adaptasi iklim," dan akan mulai mengeksekusi rencana nasional yang mencakup ketahanan terhadap panas, banjir, dan potensi kekurangan air dan makanan. Rencana ini juga akan membantu pebisnis mengatasi kerusakan infrastruktur, penurunan produktivitas, dan gangguan rantai pasokan.
Rencana Adaptasi Nasional pertama Singapura akan diterbitkan tahun depan. Berdasarkan Perjanjian Paris, negara-negara didorong untuk menyerahkan strategi ke PBB sejak tahun 2015, meski baru 75 negara yang telah mengajukannya hingga saat ini.
Fokus semakin meningkat pada adaptasi iklim seiring meningkatnya kerugian akibat cuaca ekstrem dan melemahnya upaya mitigasi perubahan iklim, terutama setelah AS menarik diri atas perintah Presiden Donald Trump.
Meski demikian, adaptasi sejauh ini masih kesulitan menarik pendanaan dari sektor swasta. Investasi tahunan yang dibutuhkan untuk mempertahankan ketahanan iklim di Asia diperkirakan mencapai US$431 miliar, dan kesenjangan pendanaan di Asia Tenggara mendekati 90%, menurut Climate Policy Initiative.
Singapura, yang bersiap menghabiskan hingga S$100 miliar dalam beberapa dekade mendatang untuk mengatasi dampak pemanasan global, telah mengalokasikan S$10 miliar untuk dana perlindungan banjir dan akan membahas kebijakan perlindungan pesisir baru yang diusulkan pekan ini.
Negara ini juga akan meluncurkan inisiatif penelitian senilai S$40 juta untuk mengkaji dampak panas dan ketahanan, serta secara terpisah berusaha meningkatkan kemampuan pemantauan dan ramalan iklimnya.
(bbn)































