Menurut Piter, kontribusi BBM terhadap inflasi cukup besar, baik melalui dampak langsung (first round effect) maupun dampak lanjutan terhadap biaya produksi, distribusi, dan harga barang konsumsi (second dan third round effect). Dengan struktur tersebut, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi secara bertahap, tergantung pada respons kebijakan pemerintah.
Dari sisi fiskal, ruang anggaran menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas harga. Piter mengungkapkan, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp50 triliun. Artinya, keputusan untuk mempertahankan harga BBM melalui subsidi memiliki konsekuensi fiskal yang signifikan, terutama saat tren harga global sedang naik.
Selain harga minyak, dinamika nilai tukar rupiah juga menjadi variabel krusial. Kenaikan harga energi global yang disertai potensi penguatan dolar AS dapat menekan rupiah dan memperbesar biaya impor. Kombinasi tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi ke depan.
"Dampak perang ini besar. Satu, menaikkan harga BBM. Kedua, mendorong dolar menjadi lebih mahal sehingga rupiah tertekan. Kombinasi keduanya akan membuat harga barang impor lebih mahal dan tekanan inflasi ke depan menjadi lebih besar. Ini yang harus diantisipasi oleh otoritas moneter dan pemerintah," terangnya.
Terkait rantai pasok, ia menilai risiko gangguan fisik dalam jangka pendek relatif terbatas. Namun demikian, pemerintah tetap perlu mengantisipasi efek rambatan kenaikan biaya energi terhadap sektor produksi dan logistik domestik.
APBN Diklaim Tetap Terkendali
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah masih bisa mengendalikan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) meskipun harga minyak dunia mencapai level US$92/barel.
"Harga minyak sudah ke US$80/barel, saya hitung sampai US$92/barel pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah," ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026).
Bendahara Negara menuturkan indikator yang dapat memengaruhi perekonomian RI yakni ekspor maupun harga minyak. Namun demikian, harga minyak dunia saat ini masih dapat disesuaikan dengan anggaran pemerintah.
"Enggak [khawatir]. Kita bisa adjust [menyesuaikan] kita bisa atur," ujarnya.
Dia menjelaskan jika eskalasi terus memanas dan harga impor minyak meningkat maka akan menekan defisit. Akan tetapi, dia akan terus mengoptimalkan pengumpulan pajak hingga penerimaan cukai tidak akan bocor.
"Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan," tuturnya.
Di sisi lain, dia menjamin adanya suplai minyak di tengah kekhawatiran akan kelangkaan stok minyak lantaran gangguan yang terjadi Selat Hormuz.
“Saya bisa hitung dengan asumsi tadi, kita masih bisa kendalikan defisit kita. Kita masih bisa atur nggak masalah,” katanya.
Dia menambahkan, sekalipun tekanan global meningkat, perekonomian nasional tetap dapat bertahan selama permintaan domestik berkontribusi sekitar 90% terhadap ekonomi masih tetap terjaga.
Sebagai catatan, harga minyak dunia atau minyak berjangka AS naik dan ditutup di atas US$74,50/barel, mengakhiri kenaikan dua hari terbesar dalam empat tahun, sementara Brent ditutup di atas US$81/barel.
(ell)






























