Di sisi lain, harga emas anjlok lebih dari 6%, tertekan oleh penguatan dolar AS dan aksi jual paksa akibat rontoknya pasar saham. Harga gas alam di Eropa juga melambung ke level tertinggi dalam tiga tahun, yang diprediksi akan ikut menyeret naik harga di Asia karena kedua wilayah tersebut bersaing memperebutkan kargo gas alam cair (LNG).
“Untuk saat ini, pasar bergerak dari satu berita utama ke berita utama lainnya,” ujar Fawad Razaqzada dari Forex.com. “Banyak hal akan bergantung pada apakah ketegangan ini bisa stabil, atau justru menjadi awal dari gangguan pasokan global yang berkepanjangan.”
Perang di Timur Tengah terus bergema ke seluruh wilayah. Israel kembali meluncurkan gelombang serangan baru ke Teheran. Sebagai balasan, Republik Islam Iran menembakkan rudal ke arah Qatar, Bahrain, dan Oman. Doha melaporkan bahwa target serangan tersebut tidak terbatas pada kepentingan militer saja. Akibatnya, Qatar dan Irak terpaksa menghentikan produksi di sejumlah situs energi utama mereka.
Gangguan pengiriman ini memicu kenaikan biaya bahan bakar. Lonjakan harga diesel—yang vital bagi logistik, pembangkit listrik, dan pemanas—dikhawatirkan akan menambah biaya transportasi yang merupakan komponen utama inflasi. Harga bensin pun ikut melompat, memperparah risiko tersebut.
“Perdagangan yang fluktuatif dan rentang harian yang lebar hari ini menunjukkan investor sedang kesulitan mengukur risiko pasar akibat konflik di Iran,” kata Will Compernolle dari FHN Financial.
“Pasar bereaksi seolah konflik ini akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, tapi saya rasa tidak demikian," kata Nancy Tengler dari Laffer Tengler Investments. "Kita harus membiarkan situasi ini mereda, dan mungkin butuh beberapa minggu,"
Konflik berkepanjangan yang mendorong harga minyak ke kisaran US$90–US$100 per barel dalam periode lama akan menjadi hambatan ekonomi signifikan, kata Jennifer McKeown dari Capital Economics. Dampak negatifnya kemungkinan dibatasi oleh bank sentral yang cenderung melihat lonjakan ini sebagai guncangan sementara dan menghindari kenaikan suku bunga, meski pemangkasan suku bunga kemungkinan akan tertunda, tambahnya.
Tanpa gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan, konflik ini kecil kemungkinannya mengakhiri tren pasar bullish saham secara siklikal dengan sendirinya, menurut Ed Clissold dan Thanh Nguyen dari Ned Davis Research, yang telah melacak berbagai peristiwa krisis selama beberapa dekade.
Secara umum, aksi militer memang menimbulkan gangguan jangka pendek di pasar, tetapi selama dampak ekonominya terbatas, pasar biasanya pulih sepenuhnya setelah ada kejelasan mengenai cakupan intervensi, kata Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management.
“Masih terlalu dini untuk memastikan bagaimana situasi akan berkembang bulan ini, tetapi kami melihat peluang akan muncul jika pelaku pasar bereaksi berlebihan dan menjual aset secara membabi buta,” ujarnya.
(bbn)





























