Logo Bloomberg Technoz

Namun, di sisi impor, tren peningkatannya jauh lebih tajam. Nilai impor Indonesia dari China mencapai US$63,38 miliar pada 2023, kemudian melonjak menjadi US$73,85 miliar pada 2024, dan kembali naik signifikan menjadi US$87,53 miliar pada 2025.

Impor nonmigas menjadi kontributor utama kenaikan tersebut. Pada Januari-Desember 2024, impor nonmigas dari China tercatat sebesar US$72,74 juta dan meningkat menjadi US$86,98 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Sebaliknya, impor migas justru mengalami penurunan. Nilainya turun dari US$1,10 juta pada Januari-Desember 2024 menjadi US$548 juta pada Januari–Desember 2025.

Dengan perkembangan tersebut, meski ekspor ke China membaik pada 2025, lonjakan impor yang lebih besar menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap barang asal China masih kuat. 

Menariknya, China menjadi negara penyumbang defisit terdalam neraca perdagangan Indonesia, baik secara total (migas dan non-migas) maupun khusus non-migas pada Januari 2026 dengan defisit sebesar US$2,47 miliar. Kemudian Australia defisit sebesar US$0,96 miliar dan Perancis defisit sebesar US$0,47 miliar.

Selain itu, defisit non-migas terdalam kembali berasal dari China sebesar US$2,62 miliar, diikuti Australia sebesar US$0,84 miliar dan Perancis sebesar US$0,47 miliar.

(ell)

No more pages