Kenaikan harga minyak kemungkinan akan menekan harga kripto, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Federal Reserve AS. Inflasi yang didorong oleh kenaikan biaya energi dapat menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya, yang berdampak negatif pada aset berisiko. Kripto cenderung bergerak seirama dengan saham daripada aset safe-haven seperti emas.
Aset safe haven melonjak setelah serangan bom. Imbal untuk Treasury tenor 10 tahun turun ke level terendah sejak Oktober 2024, sementara emas naik 1,4% menjadi sekitar US$5.350/troy ons pada Senin pagi.
Dolar AS menguat paling signifikan di antara mata uang negara-negara G-10, naik pada perdagangan awal Asia di tengah ekspektasi bahwa dolar akan tetap menjadi lindung nilai yang efektif terhadap kenaikan harga energi.
Di sektor kripto, aset tokenized telah memperhitungkan konflik Timur Tengah untuk minyak, emas, dan perak. Kontrak emas naik 1,36% menjadi US$5.354,1/troy ons pada Senin pagi, sementara kontrak minyak dan perak turun sedikit.
“Pasca eskalasi di Iran, kripto jelas telah mengambil posisi kedua dibandingkan dengan lindung nilai geopolitik tradisional. Pada periode ketegangan geopolitik, modal berputar ke aset keras, bukan ke proxy risiko berisiko tinggi,” ucap Charlie Sherry, kepala keuangan di BTC Markets.
Kekhawatiran tersebut dapat dilihat di pasar opsi Bitcoin, di mana sekitar US$1,9 miliar opsi put terkonsentrasi pada harga strike US$60.000 di Deribit, menandakan permintaan yang berkelanjutan untuk perlindungan terhadap penurunan harga. Namun, hampanya penjualan lanjutan patut diperhatikan, menurut Sherry.
“Saat pasar berhenti turun meskipun ada berita buruk, hal itu menjadi sinyal kelelahan penjual dan potensi pembentukan dasar jangka pendek. Hal itu bukan konfirmasi pembalikan tren, tetapi merupakan kondisi yang perlu dipantau,” pungkas dia.
(bbn)






























