“Kalau sendiri, semuanya terasa sulit. Semua harus diurus sendiri, padahal banyak hal yang belum sepenuhnya kami pahami,” jelasnya.
Pengalaman itu semakin terasa ketika masa kemitraan plasma yang pernah dijalani berakhir pada periode 2010 hingga 2015. Setelah itu, Umar mencoba berdiri sendiri mengelola lahannya tanpa dukungan perusahaan.
Produktivitas Turun Saat Mandiri
Keputusan mandiri ternyata berdampak besar pada hasil panen. Dari dua hektare lahan, produksi yang sebelumnya stabil justru menurun drastis dalam beberapa tahun.
“Dulu saat masih bermitra, rata-rata bisa 6–7 ton per bulan. Setelah dikelola sendiri, paling banyak hanya 2–3 ton. Pendapatan kami terpangkas setengah, itu masa yang sangat sulit,” ungkap Umar.
Penurunan tersebut tidak hanya memukul kondisi keuangan keluarga, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi anggota koperasi. Situasi itu membuat Umar kembali menimbang arti kemitraan yang pernah dijalani.
Pada 2025, ia memutuskan bergabung kembali dalam Program PSR bersama perusahaan yang sama. Baginya, kepercayaan menjadi alasan utama untuk kembali menjalin kerja sama jangka panjang.
Program PSR yang dijalankan perusahaan memberikan akses pada bibit unggul Dami Mas dari Dami Mas, lengkap dengan jadwal pemupukan dan panduan budidaya berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai membantu petani meningkatkan efisiensi dan hasil kebun.
Selain dukungan teknis, perusahaan juga membantu proses administrasi yang kerap menjadi kendala. Pengurusan sertifikat tanah, dokumen kepemilikan lahan, kartu keluarga, dan KTP difasilitasi agar petani lebih mudah mengakses program.
Dalam skema PSR, petani memperoleh hibah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit sebesar Rp60 juta per hektare, maksimal empat hektare per orang. Dana tersebut digunakan untuk pembelian bibit, persiapan lahan, pupuk, dan pelatihan teknis.
Nazarudin, Koordinator PSR perusahaan, menjelaskan bahwa dukungan agronomi diberikan secara intensif. Perusahaan juga menyiapkan jaringan kontraktor untuk membantu proses peremajaan agar biaya lebih terkendali.
Sistem pembayaran pupuk pun dibuat lebih fleksibel. Petani tidak diwajibkan membayar di awal, melainkan setelah tanaman mulai menghasilkan, sehingga beban modal awal dapat ditekan.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan yang bernaung di bawah Sinar Mas Agribusiness and Food. Melalui kerangka Collective for Impact, perusahaan menargetkan pelatihan bagi 100.000 petani sawit rakyat hingga 2035.
Cerita serupa juga datang dari Atno Wadi, anggota KUD Sidodadi yang telah lama berkecimpung di sektor sawit sejak 1960. Seiring usia tanaman yang menua, produktivitas kebunnya terus menurun dan membutuhkan peremajaan segera.
Program PSR dinilai hadir pada waktu yang tepat. Atno mengaku mendapat manfaat tidak hanya dari sisi pendanaan, tetapi juga peningkatan pengetahuan.
“Kami bersyukur perusahaan memberikan solusi. Bukan hanya soal pendanaan, tapi juga pelatihan dan bimbingan. Kami belajar cara bertani sawit yang benar,” kata Atno.
Bagi para petani, kepastian pasar menjadi faktor penting lainnya. Hasil panen dijamin terserap dengan harga yang mengikuti regulasi Dinas Perkebunan setempat, sehingga kekhawatiran soal fluktuasi harga dapat diminimalkan.
Kini, Umar, Atno, dan anggota koperasi lainnya menatap masa depan dengan optimisme baru. Mereka berharap produktivitas kebun dapat kembali ke level terbaik, bahkan melampauinya.
Harapan itu sederhana namun krusial, yakni ketersediaan bibit unggul, pupuk tepat waktu, serta pendampingan berkelanjutan dari tenaga ahli. Dengan kombinasi tersebut, mereka yakin kesejahteraan dapat meningkat secara bertahap.
“Kami ingin mencapai hasil maksimal, tapi juga ingin belajar dan berkembang. Dengan dukungan perusahaan, kami yakin masa depan akan lebih cerah,” tutup Umar.
Kemitraan yang terbangun di Desa Tanjung Benuang menunjukkan bahwa kolaborasi antara petani dan perusahaan dapat menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan sektor sawit rakyat. Kepercayaan yang dirawat dari waktu ke waktu menjadi modal utama menghadapi tantangan industri dan dinamika pasar.
(tim)

























