Bagi pasar, isu fiskal selalu menjadi sentimen paling sensitif. Indonesia memang masih mempertahankan peringkat layak investasi, tetapi setiap sinyal potensi penurunan outlook langsung tercermin pada pergerakan rupiah dan imbal hasil obligasi negara.
Investor global cenderung merespons cepat terhadap risiko kredit, terlebih di tengah lingkungan suku bunga global yang masih relatif tinggi.
Di sisi lain, fundamental eksternal Indonesia sebenarnya belum menunjukkan pelemahan drastis. Konsensus pasar memperkirakan surplus perdagangan Januari tetap berada di kisaran US$2,8 miliar, dengan ekspor kembali tumbuh dua digit dan impor melonjak seiring peningkatan aktivitas domestik. Surplus ini seharusnya dapat menjadi bantalan alami bagi rupiah.
Akan tetapi pasar mata uang juga berekspektasi ke depan. Apabila tekanan fiskal meningkat dan kebutuhan pembiayaan pemerintah bertambah besar, maka pasar memprediksi adanya pasokan surat utang yang semakin tinggi.
Tentu hal ini berpotensi menekan harga obligasi dan memicu arus keluar dana asing dari pasar SBN dan dapat membebani rupiah.
Mengacu data Bloomberg, hingga tanggal 25 Februari investor asing telah hengkang dari pasar surat utang domestik dan mencatat net sell senilai US$226,1 juta. Jika mengacu pada kurs JISDOR BI di Rp16.779/US$ maka setara dengan Rp3,79 triliun.
Pasar SUN Tertekan
Dari pasar surat utang, terjadi aksi jual di beberapa tenor pendek hingga menengah. Tekanan ini mengakhiri aksi beli yang terjadi dalam dua hari beruntun hingga kemarin. Pergerakan imbal hasil cenderung naik di sebagian besar tenor, meski skalanya relatif terbatas.
Pada tenor pendek, yield 1 tahun naik ke 5,%, sementara tenor 2Y bertahan di 5,1%. Di tenor menengah, yield 5Y meningkat ke 5,77% dan 7Y naik ke 6,26%. Sementara tenor 10 tahun yang menjadi acuan utama pasar juga tercatat naik ke 6,42%.
Kenaikan juga terlihat di tenor panjang. Yield 15Y berada di 6,593%, tenor 20Y di 6,643%, dan tenor 30 tahun naik ke 6,751%. Bahkan tenor sangat panjang 40 tahun menyentuh 6,773%.
Meski ada juga beberapa tenor yang mencatat penurunan imbal hasil yang tipis, seperti 3Y dan 11–12 tahun, pergerakan tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah gambaran umum bahwa investor terlihat sedang menyesuaikan posisinya di pasar obligasi domestik.
Agaknya pasar sedang melakukan repricing terhadap risiko domestik, terutama setelah munculnya kekhawatiran terhadap tekanan fiskal dan potensi meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Selain itu, investor sepertinya juga mengantisipasi suplai surat utang yang lebih besar ke depan, sehingga meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.
(dsp/aji)



























