Logo Bloomberg Technoz

Kemudian saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Indospring Tbk (INDS) yang ambles 14,95%, saham PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang jatuh 14,88%, dan saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang drop 14,76%.

Bursa Saham Asia lainnya justru menguat, i.a. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), SETI (Thailand), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), TOPIX (Jepang), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Tokyo), dan PSEi (Filipina), yang berhasil menguat dengan laju masing–masing 3,67%, 1,97%, 1,16%, 1,01%, 0,97%, 0,33%, 0,29%, dan 0,08%.

Indeks KOSPI Korea Menguat 3% pada Kamis 26 Februari 2025 (Bloomberg)

Di sisi berseberangan, Hang Seng (Hong Kong), Straits Time (Singapura), KLCI (Malaysia), CSI 300 (China), SENSEX (India), dan Shanghai Composite (China), yang tertekan masing–masing 1,44%, 0,87%, 0,39%, 0,19%, 0,03%, dan 0,01%. 

Jadi, IHSG adalah Bursa Saham dengan pelemahan terdalam kedua di Asia, bersanding dengan Bursa Saham Hong Kong.

IHSG berseberangan jauh dengan Bursa Saham Asia yang berhasil melesat di zona penguatan, setelah laporan keuangan Nvidia keluar lebih baik dari perkiraan, membantu meredakan sedikit kecemasan investor atas kemajuan pesat (booming) Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Mengutip Phillip Sekuritas Indonesia, arahan (guidance) atau proyeksi pendapatan juga lebih baik dari yang diprediksi. Nvidia menyatakan pendapatan untuk Kuartal I–2026 akan mencapai US$78 miliar, plus atau minus 2% yang lebih tinggi dari estimasi para analis, US$72,6 miliar. 

“Kinerja keuangan Nvidia yang solid membantu meredakan kekhawatiran tentang apakah euforia AI itu nyata dan apakah investasi besar–besaran pada AI akan membuahkan hasil,” terang Phillip Sekuritas, biarpun banyak investor yang tetap berhati–hati.

Dari regional Asia, Bank Sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BOK) mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,5% selama enam bulan berturut–turut, memperpanjang jeda pada siklus pelonggaran kebijakan moneter dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Keputusan ini merefleksikan keyakinan BOK terhadap dukungan dari sektor chip komputer dan inflasi yang stabil sehingga memberi waktu lebih lama bagi BOK untuk menilai risiko stabilitas keuangan sekaligus mengurangi kebutuhan ekonomi akan stimulus tambahan.

Pada laporan riset yang sama, Philip menyebut, BOK merevisi proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 2% pada tahun 2026 lebih optimistis dari sebelumnya 1,8% sementara tingkat inflasi rata–rata saat ini diprediksi mencapai 2,2%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 2,1%.

(fad)

No more pages