Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan Moody’s, bersama dengan peringatan dari MSCI Inc. mengenai perlunya reformasi pasar, memperburuk sentimen yang sudah lemah di kalangan investor asing di Indonesia. Sebagai respons, pemerintah telah mengumumkan sejumlah reformasi dan menyatakan bahwa perekonomian mulai menguat.

S&P menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai metrik utama, dengan Indonesia selama ini secara konsisten berada di bawah 15% dalam waktu yang lama. Namun, rasio tersebut meningkat signifikan sejak pandemi dan belum menunjukkan penurunan yang cepat.

Indonesia, yang memiliki aturan yang ditetapkan sendiri untuk membatasi defisit fiskal maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB), mencatat defisit 2,9% tahun lalu—lebih tinggi dari perkiraan—akibat lemahnya penerimaan negara.

Perkembangan ini dinilai S&P sebagai sesuatu yang “bergerak naik sedikit lebih cepat” dalam hal risiko penurunan terhadap trajektori fiskal negara.

Kelemahan penerimaan yang berkelanjutan dapat membuat beban bunga tetap tinggi dan mengikis bantalan fiskal yang menopang peringkat kredit Indonesia, kata S&P.

“Dua perkembangan yang kami awasi dengan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah—apakah tetap berlandaskan pada kebijakan aturan fiskal yang sudah mapan—dan kedua, perkembangan penerimaan,” kata Yin.

Saham-saham anjlok paling tajam dalam beberapa dekade pada akhir Januari setelah MSCI memperingatkan bahwa Indonesia dapat diturunkan statusnya dari pasar negara berkembang jika gagal mengatasi kekhawatiran terkait kelayakan investasi dan transparansi.

Regulator dengan cepat merespons dengan meluncurkan rencana reformasi pasar, termasuk peningkatan persyaratan saham yang tersedia untuk diperdagangkan atau free float.

Tren arus keluar dana asing di IHSG. (Bloomberg)

Penurunan terbaru saham Indonesia tidak akan langsung memengaruhi peringkat sovereign negara tersebut, namun S&P menyatakan penting untuk memulihkan kepercayaan investor asing guna menghindari risiko arus keluar modal yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan, menekan nilai tukar rupiah, dan melemahkan keuangan publik.

“Ada kemungkinan tekanan pada harga dapat meningkat jika bobot indeks berubah, atau jika reklasifikasi benar-benar terjadi,” kata Kim Eng Tan, Managing Director dan pemimpin sektor peringkat sovereign Asia Pasifik.

“Hal ini dapat memengaruhi atau menyebabkan pembalikan arus modal asing dari bursa saham Indonesia.”

Jika dana asing mengurangi eksposurnya terhadap Indonesia secara signifikan, likuiditas di pasar modal akan terdampak, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah maupun pelaku usaha, kata Tan, sambil menambahkan bahwa investor juga memegang instrumen utang jangka pendek dan deposito di pasar tempat mereka berinvestasi di saham.

Arus masuk yang lebih lemah juga dapat memaksa Bank Indonesia untuk menggunakan cadangan devisanya guna mendukung nilai tukar rupiah.

“Perkembangan semacam itu dapat menambah tekanan penurunan yang belakangan ini muncul terhadap peringkat sovereign Indonesia,” ujarnya.

IHSG Balik Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (26/2/2026), ditutup di zona merah usai kehilangan 1,04% di posisi 8.235,26.

Amblesnya saham–saham berbobot besar jadi sebab, terutama saham BUVA dan VKTR, hingga diperberat lagi oleh saham BUMI.

Sepanjang perdagangan IHSG langsung terpeleset di zona merah dengan pelemahan yang bertambah dalam. Adapun rentang perdagangan terjadi pada area level 8.358,95 sampai dengan terendah 8.139,82.

Data Bursa Efek Indonesia memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp28,14 triliun dari sejumlah 56,52 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 3,14 juta kali diperjualbelikan.

Penutupan IHSG Sesi II pada Kamis 26 Februari 2026 (Bloomberg)

Tercatat hanya ada penguatan 146 saham, dan sebanyak–banyaknya 568 saham terjadi pelemahan. Sisanya 105 saham stagnan.

Saham–saham konsumen non primer big caps menjadi pemberat IHSG pada hari ini, yaitu saham BUVA dan saham VKTR.

Adapun saham transportasi, saham konsumen non primer, dan saham infrastruktur melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 4,53%, 2,58% dan 2,41%.

Melansir Panin Sekuritas, IHSG ditutup di zona merah, dengan posisi stochastic masih mengarah ke bawah, artinya masih ada kemungkinan melemah.

Critical level berada pada Neckline Double Bottom 8.214  sampai dengan titik Low hari ini di 8.140,” sebut Panin Sekuritas.

(rtd/naw)

No more pages