Pergerakan historis dalam tabel BEER di atas juga menunjukkan tren penurunan estimasi nilai wajar di rentang Rp15.700-an hingga Rp15.400-an/US$.
Melansir Bloomberg Intelligence, model analisa BEER ini didapatkan dari proses modifikasi kerangka BEER yang pertama kali diperkenalkan oleh Clark dan MacDonald pada 1998, dengan menggunakan empat faktor yang signifikan secara ekonomi, di antaranya:
-
Terms of trade relatif (disesuaikan musiman)
-
Investasi relatif sebagai persentase terhadap PDB
-
Selisih imbal hasil nominal (nominal yield differentials)
-
Selisih inflasi utama (headline inflation differentials)
Dalam model ini, angka-angka seperti terms of trade, investasi, dan selisih inflasi diolah terlebih dulu dengan metode logaritma agar skala datanya sebanding. Tujuannya supaya perbandingan antarvariabel menjadi lebih adil dan hasil perhitungannya lebih akurat ketika dikaitkan dengan pergerakan kurs. Setelah itu, barulah dilakukan perhitungan statistik untuk melihat seberapa kuat hubungan faktor-faktor tersebut terhadap nilai tukar.
Keempat faktor tersebut dipilih karena sudah lama dikenal sebagai penentu utama pergerakan mata uang. Selain relevan secara ekonomi, data-datanya juga relatif mudah didapat dan tersedia secara konsisten di banyak negara. Variabel-variabel ini dianggap tidak terlalu saling “tumpang tindih” dalam menjelaskan hal yang sama, sehingga hasil modelnya lebih stabil dan dapat dipercaya.
Sementara dari model Real Effective Exchange Rate (REER) di pasar Asia Asia per 26 Februari 2026 menunjukkan perbedaan posisi daya saing mata uang yang cukup kontras di kawasan. Mata uang yang paling terapresiasi secara riil adalah ringgit Malaysia dengan Z-score 1,74, disusul dolar Singapura di 1,57 dan baht Thailand di 1,30.
Z-score positif menandakan mata uang tersebut berada di atas rata-rata historisnya, artinya relatif lebih kuat secara riil dibanding fundamental jangka panjangnya. Dalam konteks perdagangan, posisi ini bisa mengindikasikan daya saing ekspor yang sedikit tertekan jika penguatan berlangsung terlalu lama.
(dsp/aji)






























