Logo Bloomberg Technoz

Minyak Iran Light dijual hingga US$11 lebih rendah dari patokan global, kata mereka, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media. Nilai itu telah melebar dari US$8 menjadi US$9 pada Desember 2025.

Impor minyak Iran dan Rusia oleh China./dok. Bloomberg

Kilang independen China, yang dikenal sebagai "teapots", secara historis bertindak sebagai katup tekanan pasar minyak, menyerap barel yang ditolak oleh pihak lain.

Namun, kapasitas mereka terbatas mengingat mereka hanya menyumbang sekitar seperempat dari kapasitas pengolahan negara dan juga tunduk pada kuota impor yang ditetapkan pemerintah.

Akibat China tidak mampu sepenuhnya menyerap minyak mentah yang dialihkan, minyak yang tidak terjual menumpuk di perairan Asia dan Rusia serta Iran kehabisan pilihan.

Kremlin telah terpaksa mengurangi produksi, sehingga kehilangan dana untuk perang di Ukraina. Sementara itu, Iran berusaha mengirimkan sebanyak mungkin minyak karena bersiap menghadapi potensi serangan dari AS.

“Kilang swasta China tidak dapat menerima lebih banyak lagi karena kapasitas mereka kemungkinan sudah maksimal,” kata Jianan Sun, seorang analis di Energy Aspects, merujuk pada penumpukan barel minyak yang dikenai sanksi di penyimpanan darat dan lepas pantai.

Kilang-kilang milik negara China secara tradisional menghindari minyak mentah Iran dan, baru-baru ini, sebagian besar juga menjauhkan diri dari perdagangan dengan Rusia.

Sejauh ini, tampaknya Iran yang terkena dampaknya karena Rusia makin menguasai pasar. Pengiriman minyak Rusia ke pelabuhan China meningkat menjadi 2,09 juta barel per hari dalam 18 hari pertama Februari, menurut data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Hal itu merupakan peningkatan sekitar 20% dari Januari dan lonjakan sekitar setengahnya dari Desember.

Sebaliknya, Iran telah mengekspor sekitar 1,2 juta bph ke China sepanjang tahun ini, turun sekitar 12% dari periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Kpler.

Perusahaan intelijen data tersebut memperkirakan saat ini terdapat hampir 48 juta barel minyak Iran di laut, naik dari sekitar 33 juta barel pada awal Februari.

Sebagian besar peningkatan terjadi di Laut Kuning dan Selat Singapura. Sementara itu, terdapat sekitar 9,5 juta barel minyak Rusia yang berada di perairan Asia.

Serangan besar AS terhadap Iran dapat memengaruhi kemampuan negara tersebut untuk terus mengekspor jika fasilitas minyaknya menjadi sasaran atau transportasi melalui Selat Hormuz terganggu.

AS telah menempatkan sejumlah besar pasukan di Timur Tengah, dan meskipun Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia lebih memilih untuk mencapai kesepakatan diplomatik, ia juga memperingatkan bahwa tidak adanya kesepakatan akan "sangat buruk" bagi Teheran.

Minyak mentah Rusia juga membawa "tingkat risiko yang relatif lebih rendah" bagi pembeli China dibandingkan dengan minyak mentah Iran karena optimisme atas potensi gencatan senjata di Ukraina, kata Lin Ye, wakil presiden pasar minyak di perusahaan konsultan Rystad Energy.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan ia membahas persiapan untuk pembicaraan ulang dengan Trump menjelang pertemuan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026), dengan negosiasi lebih lanjut yang melibatkan Rusia diperkirakan akan terjadi pada awal Maret.

(bbn)

No more pages