Logo Bloomberg Technoz

Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan serangan militer terbatas terhadap negara tersebut tahun lalu menginginkan kesepakatan terkait program nuklir Iran, serta memimpin pengerahan besar-besaran kekuatan militer di kawasan.

“Jika Iran menerima apa yang dikatakan AS, tidak ada lagi legitimasi yang tersisa bagi rezim tersebut; mereka harus mengatakan ‘tidak’,” kata Fesharaki.

“Kali ini akan berbeda karena Iran bisa melakukan dua hal,” ujarnya, dengan menyebut potensi serangan terhadap negara-negara terdekat seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, serta kemungkinan upaya memblokir Selat Hormuz.

Fesharaki memaparkan sejumlah skenario yang dapat mengganggu arus minyak mentah dari kawasan tersebut, dengan mengatakan harga di kisaran US$90 hingga US$100 per barel “dalam jangkauan,” tergantung tingkat keparahannya. Patokan global Brent terakhir diperdagangkan di sekitar US$71.

AS dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan pada Kamis di Jenewa, menurut mediator Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ia memperkirakan akan bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff untuk diskusi tersebut, serta menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan dari pengerahan militer AS di kawasan.

Pembicaraan tersebut “hampir pasti gagal hanya karena pembatasan dan cara pandang Iran terhadapnya,” kata Fesharaki.

Dalam jangka panjang, jika rezim Iran digulingkan, pemulihan stabilitas bisa memakan waktu sekitar satu tahun, menurutnya.

(bbn)

No more pages