Logo Bloomberg Technoz

Ketidakpastian kebijakan ini dinilai dapat menekan aktivitas bisnis dan investasi serta memicu pelemahan dolar lebih lanjut. 

Hal ini sudah terlihat dari kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10Y sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 4,08%. Selain ketidakpastian tarif, tekanan bagi dolar AS juga datang dari data pertumbuhan dan inflasi yang beragam, serta adanya ketidakpastian tambahan terkait potensi defisit anggaran akibat kebijakan tarif. 

Dari sentimen domestik, laju penguatan rupiah masih akan terbatas. Rupiah masih terbebani oleh data-data fundamental domestik Kuartal IV-2025 yang pekan lalu dirilis Bank Indonesia (BI).

Dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), terungkap jika struktur eksternal Indonesia mengarah pada peningkatan ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek dengan peran sektor riil yang menyusut dalam perekonomian Indonesia. 

Laporan BI mencatat bahwa surplus NPI yang sebesar US$7 miliar pada triwulan IV 2025 tidak lagi ditopang oleh kekuatan sektor riil, melainkan oleh transaksi modal dan finansial. Transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2025 tercatat surplus US$8,3 miliar (2,3% dari PDB), setelah pada periode sebelumnya terkontraksi US$8 miliar (2,1% dari PDB).

Pada saat yang sama, transaksi berjalan kembali defisit, dengan meningkatnya defisit pendapatan primer akibat pembayaran dividen kepada investor asing. Transaksi berjalan kembali mencatat defisit sebesar US$2,5 miliar (0,7% dari PDB) pada triwulan IV, setelah mencatatkan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$4 miliar (1,1% dari PDB). 

Komposisi surplus yang demikian membuat rupiah berada dalam posisi yang rentan, terutama di tengah meningkatnya premi risiko global akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.

Ketika investor global mulai melakukan repricing terhadap aset-aset berisiko dan mengalihkan portofolio ke instrumen safe haven, negara dengan defisit transaksi berjalan seperti Indonesia saat ini akan menghadapi tekanan ganda, yaitu pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil surat utang domestik. 

Dari pasar surat utang sentimen bearish cukup kental pekan lalu dengan adanya kenaikan tipis imbal hasil SUN tenor 10Y dari 6,42% menjadi 6,46%. Investor global menjual bersih obligasi Indonesia senilai US$85,8 juta pada 19 Februari, memperpanjang tren jual bersih selama tujuh hari beruntun, menurut data Kementerian Keuangan

Selain itu, dalam lelang SUN terakhir pada 18 Februari lalu minat pasar pun menyusut. Hal ini terlihat dari total penawaran masuk hanya mencapai Rp63,06 triliun, turun sebanyak 17,66% dari lelang sebelumnya pada (3/2/2026) yang mencapai Rp76,59 triliun.  

Lebih lanjut, meningkatnya defisit pendapatan primer akibat pembayaran dividen kepada investor asing yang tercatat dalam NPI juga mencerminkan masih tingginya repatriasi keuntungan dari investasi langsung maupun portofolio. Dalam jangka pendek, hal ini akan terus menekan neraca transaksi berjalan dan agaknya akan terus membatasi ruang apresiasi rupiah, sekalipun terdapat momentum pelemahan dolar AS secara global.

Sebab, tanpa perbaikan kontribusi sektor riil terhadap kinerja eksternal, khususnya melalui penguatan ekspor manufaktur bernilai tambah, stabilitas rupiah akan tetap ditentukan oleh dinamika arus modal yang berada di luar kendali otoritas domestik.

(dsp/aji)

No more pages