Logo Bloomberg Technoz

Harga Bitcoin yang Bertahan di US$67 Ribu Bukan Petanda Baik

Redaksi
17 February 2026 17:45

Bitcoin Mendekati Rekor Setelah Mencapai $125.000 (Bloomberg)
Bitcoin Mendekati Rekor Setelah Mencapai $125.000 (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan Bitcoin selama hari libur perayaan Imlek tahun 2026 memperlihatkan naik-turun harga dan mampu bertahan pada kisaran US$67.884 (sekitar Rp1,14 miliar), namun bukan berarti ini menjadi sinyal yang menguntungkan investor pasar aset digital.

Harga terbaru Bitcoin hingga Selasa (17/2/2026) sore tersebut masih di bawah capaian terbaiknya dalam sepekan terakhir, itupun masih pada posisi US$70.786, amat jauh jika dibandingkan dengan raihan all-time-high (ATH) bulan Oktober 2025. Penurunan yang sudah lebih dari 40% menjadikan valuasi di pasar kripto secara keseluruhan tercatat defisit hampir US$2 triliun, seperti dilaporkan Bloomberg.

Bitcoin berdasarkan data CoinGecko bahkan untuk sementara mencatatkan kerugian mingguan keempat berturut-turut. Tidak ada sinyal yang terang kapan ‘awan mendung’ akan segera sirna setelah sempat bullish secara terbatas mendekati US$71.000 akhir pekan yang lalu. BTC sebelumnya bahkan sempat terlempar pada level diskon sekitar 50% dari ATH pada awal Februari ini.


Analis pasar dari IG, Alex Rudolph, memberi penekanan kembali bagaimana volatilitas pasar aset digital yang tidak bisa dihilangkan, terlebih dengan dorongan ke bawah harga Bitcoin, kripto acuan, yang sempat mencapai US$60.132. Dinamika Bitcoin juga sangat rentan dengan berita makroekonomi, serta pergerakan leverage, meski komoditi logam mulia emas batangan punya catatan yang bertolak belakang.

Faktor positif yang mendasari kenaikan harga tahun 2025, termasuk aliran dana dari investor institusi ke instrumen exchange-traded fund atau ETF Spot Bitcoin, kini telah berakhir, kata Rudolph. “Deleveraging paksa dari akhir 2025 sebagian besar telah berlalu - struktur teknis Bitcoin dan kondisi pasar secara keseluruhan runtuh secara tajam, menyebabkan salah satu koreksi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir,” tulis dia dalam catatan terbaru, dikutip Selasa (17/2/2026).