Logo Bloomberg Technoz

Lagi Crane Roboh di Thailand, Kini Timpa Proyek Jalan Layang

News
16 January 2026 16:00

Puing-puing crane konstruksi yang roboh di Samut Sakhon, Thailand, Kamis (16/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Puing-puing crane konstruksi yang roboh di Samut Sakhon, Thailand, Kamis (16/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Sebuah crane di lokasi proyek pembangunan jalan layang di pinggiran Bangkok, Thailand ambruk pada Kamis pagi (15/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Sebuah crane di lokasi proyek pembangunan jalan layang di pinggiran Bangkok, Thailand ambruk pada Kamis pagi (15/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Crane tersebut digunakan dalam pembangunan jalan layang dan jatuh menimpa badan jalan di bawahnya. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Crane tersebut digunakan dalam pembangunan jalan layang dan jatuh menimpa badan jalan di bawahnya. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Peristiwa tersebut menyebabkan 2 orang tewas dan sedikitnya lima orang mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Peristiwa tersebut menyebabkan 2 orang tewas dan sedikitnya lima orang mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Insiden ini terjadi sehari setelah kecelakaan serupa pada crane yang digunakan untuk proyek kereta cepat. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Insiden ini terjadi sehari setelah kecelakaan serupa pada crane yang digunakan untuk proyek kereta cepat. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Crane itu ambruk dan jatuh menimpa kereta penumpang yang melintas.  (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Crane itu ambruk dan jatuh menimpa kereta penumpang yang melintas.  (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 32 orang dilaporkan meninggal dunia. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 32 orang dilaporkan meninggal dunia. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Puing-puing crane konstruksi yang roboh di Samut Sakhon, Thailand, Kamis (16/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Sebuah crane di lokasi proyek pembangunan jalan layang di pinggiran Bangkok, Thailand ambruk pada Kamis pagi (15/1/2026). (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Crane tersebut digunakan dalam pembangunan jalan layang dan jatuh menimpa badan jalan di bawahnya. (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Peristiwa tersebut menyebabkan 2 orang tewas dan sedikitnya lima orang mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut. (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Insiden ini terjadi sehari setelah kecelakaan serupa pada crane yang digunakan untuk proyek kereta cepat. (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Crane itu ambruk dan jatuh menimpa kereta penumpang yang melintas.  (Valeria Mongelli/Bloomberg)
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 32 orang dilaporkan meninggal dunia. (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Pemerintah Thailand memerintahkan perusahaan konstruksi terbesar di negara itu untuk menangguhkan pekerjaan di lebih dari selusin proyek setelah dua kecelakaan terpisah dalam kurun dua hari yang menewaskan 34 orang dan melukai puluhan lainnya.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul juga membatalkan kontrak Italian-Thai Development Pcl untuk pembangunan sebagian jaringan kereta api cepat yang didukung China di wilayah timur laut Thailand, serta proyek jalan layang yang menghubungkan Bangkok dengan Provinsi Samut Sakhon.

Insiden robohnya crane yang menimpa kereta ekspres yang sedang melaju pada Rabu menewaskan sedikitnya 32 orang. Sementara itu, kecelakaan di proyek jalan layang sehari kemudian menewaskan dua orang. Jalan layang yang sedang dibangun tersebut berada di sepanjang Jalan Rama II, ruas jalan yang dikenal sering mengalami keterlambatan konstruksi dan insiden fatal.

Serangkaian kecelakaan tersebut memicu protes publik serta seruan dari sejumlah politisi agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap kontraktor terkait.

Langkah keras pemerintah ini menjadi pukulan terbaru bagi Italian-Thai, setelah presidennya, Premchai Karnasuta, termasuk di antara pihak yang didakwa atas runtuhnya gedung pemerintah yang belum sepenuhnya selesai di Bangkok. Insiden tersebut menewaskan 89 pekerja akibat gempa bumi pada Maret lalu.

Italian-Thai saat ini memegang sekitar 13 kontrak pemerintah, termasuk sejumlah proyek infrastruktur besar seperti pembangunan sistem kereta bawah tanah, ujar Menteri Transportasi Phiphat Ratchakitprakarn kepada wartawan pada Kamis. Ia menambahkan bahwa perusahaan tersebut juga akan dilarang mengajukan penawaran kontrak di masa mendatang, dengan pertimbangan kasus per kasus.

Saham perusahaan tersebut anjlok 20 persen di bursa Bangkok, memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut.

Pekerjaan pada jalur kereta api cepat yang menghubungkan Thailand dan China melalui Laos, yang ditargetkan beroperasi pada 2030, tetap berlanjut, kecuali di area tempat derek mengalami kecelakaan.

Bagian proyek di wilayah Thailand yang berada di bawah Inisiatif l Belt and Road Initiative China memiliki panjang 609 kilometer dan terhubung dengan jalur Laos–China melalui jembatan yang dibangun di atas Sungai Mekong. Proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar 13 miliar dolar AS.

(bbn)