Saat Startup Bergejolak, Bagaimana Fintech Jaga 'Trust' Investor?
Bloomberg Technoz Podcast - TechnoZone
21 January 2026 15:09
Bloomberg Technoz, Jakarta - Perkembangan teknologi finansial di Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan akselerasi yang signifikan.
Baca Juga
Kebutuhan akan layanan keuangan yang terintegrasi, efisien, dan inklusif terus meningkat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, industri fintech juga dihadapkan pada tekanan regulasi, volatilitas pasar, serta tuntutan tata kelola yang semakin ketat.
Topik tersebut menjadi sorotan dalam episode terbaru Bloomberg Technoz Podcast – TechnoZone. Dipandu Host Exist in Exist, diskusi menghadirkan Chiragh Kirpalani, Founder & CEO Ayoconnect, untuk membedah dinamika industri sekaligus refleksi perjalanan membangun perusahaan teknologi keuangan selama satu dekade.
Chiragh menilai usia sepuluh tahun merupakan fase penting transformasi dari startup menuju organisasi yang lebih matang. Menurutnya, perubahan ini menuntut disiplin tata kelola, fokus pada keberlanjutan, serta kemampuan beradaptasi di tengah gejolak industri. Ia menegaskan bahwa daya tahan menjadi faktor penentu, ujar Chiragh, “survival itu penting banget di especially di saat saat momen yang sekarang ada,” tutupnya.
Dari sisi model bisnis, perusahaan fintech infrastruktur berperan sebagai penghubung antara perbankan, fintech, dan pelaku industri keuangan lainnya. Dukungan lisensi dari Bank Indonesia memungkinkan pengembangan solusi payment collection, payment gateway, serta integrasi sistem keuangan untuk segmen enterprise seperti multifinance, asuransi, dan layanan berbasis langganan.
Tekanan Pendanaan dan Arah Profitabilitas
Diskusi kemudian mengulas tantangan pendanaan di tengah melambatnya arus investasi ke startup fintech. Chiragh menekankan pentingnya transparansi dan rencana bisnis yang jelas untuk menjaga kepercayaan investor. Audit independen, menurutnya, menjadi bagian dari proses evaluasi guna memperkuat governance dan manajemen risiko saat perusahaan bertransisi menuju fase yang lebih mapan.
Memasuki tahun kesepuluh, fokus perusahaan diarahkan pada kemandirian finansial. Target break even menjadi tonggak penting sebelum melangkah ke profitabilitas penuh. “di tahun ke 10 ini di quarter dua ini adalah break even at the monthly basis,” ujar Chiragh, menambahkan bahwa pencapaian ini akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan berkelanjutan, tutupnya.
Dari perspektif kepemimpinan, Chiragh mengibaratkan pengelolaan organisasi seperti mengelola tim olahraga. Performa menjadi fokus, namun keselarasan tujuan seluruh tim tetap krusial. Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan karyawan dan memastikan operasional tetap stabil ketika proses pendanaan memakan waktu lebih panjang.
Menutup perbincangan, Chiragh menyampaikan optimismenya terhadap masa depan fintech Indonesia. Dengan tingkat inklusi keuangan yang masih di bawah rata-rata global, kolaborasi regulator, pelaku industri, dan penyedia teknologi dinilai menjadi kunci untuk memperluas akses layanan keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Pembahasan lengkap mengenai perjalanan, tantangan, dan visi ke depan industri fintech ini dapat disimak dalam Bloomberg Technoz Podcast – TechnoZone, hanya di www.bloombergtechnoz.com dan kanal YouTube Bloomberg Technoz.
(pod)
























