Logo Bloomberg Technoz

Sementara kebutuhan domestik logam timah hanya di kisaran 7%-8%. 

Di sisi lain, hingga saat ini TINS belum mendapatkan informasi secara menyeluruh mengenai wacana pelarangan ekspor tersebut. 

“Kami belum mendapat info komprehensif tentang berita tersebut. Tapi menurut dugaan atau perkiraan kami adalah ekspor bijih timah yang dilarang. Kecuali ada regulasi terbaru yang melarang ekspor komoditas logam timah,” jelas Suhendra. 

Sebelumnya, Bahlil melaporkan saat ini pihaknya tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor timah.

Rencana itu sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi mineral logam di dalam negeri.

“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji beberapa komoditas lain termasuk timah, ga boleh lagi ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia./dok.Biro Pers Sekretariat Presiden-Rusman

Bahlil meminta pelaku usaha untuk investasi lebih intens pada sisi industri hilir timah nantinya. Dia berharap nilai tambah dari hilirisasi timah itu dapat berlipat ganda.

“Silahkan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” kata Bahlil.

Rare Earth 

Manuver penghentian ekspor timah itu ikut didorong potensi hilirisasi logam tanah jarang atau rare earth (RRE) yang belakangan menjadi perhatian pemerintah.

Adapun, LTJ terkandung dalam salah satu mineral ikutan timah, yakni monasit yang terdiri dari unsur dominan seperti cerium, lanthanum, neodymium, yttrium, dan praseodimium.

LTJ juga mengandung thorium yang dapat diolah menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Menurut Bahlil, keputusan pelarangan ekspor tersebut dilakukan karena logam tanah jarang merupakan komoditas strategis yang harus dikuasai oleh negara.

Dia juga mendorong beberapa wilayah yang belum memiliki izin usaha pertambangan (IUP) akan diprioritaskan untuk dimanfaatkan oleh negara, melalui badan usaha milik negara (BUMN).

Sekadar catatan, program hilirisasi lintas sektor diproyeksikan mampu menarik investasi hingga US$618 miliar sampai 2040. Dari total tersebut, sebesar US$498,4 miliar berasal dari subsektor mineral dan batubara (minerba), sementara US$68,3 miliar dari sektor minyak dan gas bumi.

Tak hanya itu, hilirisasi juga diperkirakan berpotensi menghasilkan nilai ekspor hingga US$857,9 miliar, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$235,9 miliar, serta menciptakan lebih dari 3 juta lapangan kerja.

(mfd/naw)

No more pages