Dari sisi fiskal, terang dia, Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai katalis dan instrumen countercyclical untuk mendorong pertumbuhan melalui program unggulan, perlindungan sosial yang tepat sasaran, dukungan dunia usaha, optimalisasi penerimaan negara, dan disiplin fiskal.
"Jadi kita sedikit mengorbankan fiskal dalam sisi defisit, dari 2,5% ke arah 2,9%. Itu adalah program countercyclical yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun sekarang jadi mulai naik," ungkap dia.
Kendati demikian, dia mengklaim akan melakukan strategi tersebut tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal. Pasalnya, pemerintah juga harus menjaga level rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tak lebih dari 3%.
"Nantinya, perusahaan-perusahaan yang masih berusaha juga akan beruntung. Pasar (saham) pasti akan naik sesuai dengan perbaikan pondasi ekonomi," tutur dia.
(lav)




























