Sementara itu, belanja modal Indika (INDY) pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$380 juta, termasuk sekitar US$300 juta yang dialokasikan untuk proyek Awak Mas. Perusahaan menyebut peningkatan anggaran ini sebagian disebabkan oleh keterlambatan proses pembebasan lahan sepanjang 2025, sehingga perusahaan perlu mempercepat konstruksi guna mengejar target penyelesaian proyek pada akhir 2026.
Selain itu, Indika melakukan peningkatan fasilitas kamp pekerja dan pembangunan jalan akses segala cuaca untuk mendukung kelancaran operasi saat produksi dimulai. Kenaikan biaya juga dipengaruhi oleh tuntutan pembayaran yang lebih tinggi dari kontraktor untuk peralatan dan pengadaan, seiring menguatnya harga emas global.
Moody’s mencatat bahwa hingga Desember 2025, progres pembangunan Awak Mas telah mencapai sekitar 50%, dengan uji coba produksi ditargetkan dimulai pada akhir 2026. Dengan asumsi all-in sustaining cost sekitar US$1.150 per ons dan harga emas US$3.000 per ons, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan EBITDA sekitar US$130 juta ketika produksi tahunan meningkat hingga sekitar 100.000 ons.
Namun, hingga kontribusi Awak Mas terhadap kinerja keuangan menjadi signifikan, kualitas kredit Indika masih akan bergantung pada anak usaha yang dimiliki 91%, yakni Kideco Jaya Agung.
Moody’s menilai kinerja Kideco akan tetap tertekan oleh kondisi harga batu bara termal yang relatif rendah, meskipun perusahaan memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan rasio pengupasan tambang untuk meredam dampak siklus harga.
Dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara termal sekitar US$51 per metrik ton pada 2026, EBITDA Indika diperkirakan relatif stabil di kisaran US$200 juta, tidak jauh berbeda dibandingkan dengan 2025.
Seiring peningkatan utang dan kontribusi laba yang masih terbatas dari batu bara, rasio leverage Indika diukur dari utang yang disesuaikan Moody’s terhadap EBITDA diperkirakan meningkat menjadi sekitar 7,0 kali pada Desember 2026, dari sekitar 6,0 kali pada Desember 2025.
Moody’s memperkirakan perbaikan leverage baru akan terjadi setelah Awak Mas mulai beroperasi secara komersial penuh pada awal 2027, meskipun leverage diperkirakan baru mendekati 4,0 kali pada periode tersebut akibat lonjakan utang yang signifikan.
Moody’s juga menilai Indika masih memiliki likuiditas yang memadai dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, ditopang oleh saldo kas, fasilitas kredit komitmen yang belum ditarik, serta proyeksi arus kas operasional.
Namun, kenaikan belanja modal Awak Mas dinilai akan mempersempit ruang kepatuhan terhadap perjanjian utang, khususnya terkait batas net debt/EBITDA maksimum 3,75 kali pada 2026, jika tidak disertai peningkatan laba yang berarti atau aksi divestasi aset.
Outlook stabil mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa risiko eksekusi proyek emas akan berkurang ke depan dan proyek tersebut akan bersifat menambah laba pada 2027, sehingga mendukung pemulihan metrik kredit perseroan, dengan tetap menjaga kecukupan likuiditas.
Moody’s menyatakan bahwa peluang peningkatan peringkat dapat muncul apabila proyek Awak Mas mulai berproduksi, meningkatkan laba secara material, serta mendorong penurunan utang sehingga metrik kredit membaik secara berkelanjutan.
Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat terjadi jika proyek menghadapi keterlambatan atau pembengkakan biaya lebih lanjut, sumber kas internal tidak mencukupi kebutuhan pendanaan 12–18 bulan, atau perusahaan melakukan investasi agresif maupun distribusi kepada pemegang saham.





























