Selain itu, CPO juga bersaing dengan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai. Kebetulan harga minyak kedelai sedang turun seiring stok yang melimpah.
Saat harga minyak kedelai lebih murah, maka keuntungan untuk beralih ke CPO menjadi berkurang. Kedua komoditas ini bisa saling menggantikan sehingga berkompetisi di pasar minyak nabati internasional.
Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd, memperkirakan harga CPO bisa anjlok ke bawah MYR 4.000/ton pada April.
“Sejak tahun lalu, situasi berbalik,” ujar Mistry dalam wawancara dengan Bloomberg News.
Biasanya, lanjut Mistry, CPO adalah minyak nabati paling murah. Namun selisih dengan minyak kedelai makin sempit sehingga daya tarik CPO memudar.
Analisis Teknikal
Lalu bagaimana proyeksi harga CPO untuk hari ini, Jumat (13/2/2026)? Apakah akan ada koreksi empat hari beruntun?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO masih terjebak di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 40. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Adapun indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 1. Sudah jauh di bawah 20 yang berarti sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO berpeluang naik. Koreksi yang sudah cukup dalam sepertinya akan memunculkan potensi technical rebound.
Target resisten terdekat ada di MYR 4.143/ton yang merupakan Moving Average (MA) 10. Jika tertembus, maka MYR 4.163-4.189/ton bisa menjadi target berikutnya.
Namun kalau turun lagi, maka harga CPO berisiko mengetes support MYR 3.948/ton. Penembusan di titik ini bisa saja melongsorkan harga ke kisaran MYR 3.807-3.433/ton.
(aji)



























