Logo Bloomberg Technoz

"Jadi ekonominya melambat, diperlambat sengaja. Fiskal nggak sadar, moneter juga nggak sadar," tekannya. Oleh karenanya untuk membalik kondisi tersebut, ia melakukan pemindahan dana pemerintah senilai Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke perbankan milik negara agar likuiditas meningkat.

Sebagai pengingat saja, pada awal Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, ia menempatkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke lima bank pelat merah pada 12 September 2025 lalu. Penempatan tersebut terdiri dari Rp55 triliun masing-masing untuk Bank Mandiri, BNI, dan BRI, Rp25 triliun untuk BTN, serta Rp10 triliun untuk Bank Syariah Indonesia (BSI).

"Orang bilang, 'Oh itu nggak ada dampaknya.' Tapi itu yang membalik arah ekonomi kita. Laju pertumbuhan uang saya buat double digit lagi, artinya ekonomi kita biarkan tumbuh lagi," kata Purbaya.

Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, klaim Purbaya, ditunjukkan dengan Penjualan mobil dan sepeda motor kembali tumbuh positif setelah bertahun-tahun tertekan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur juga kembali menembus level ekspansi di atas 50, menandakan aktivitas industri mulai menggeliat.

Sebagai catatan saja, S&P Global mengumumkan aktivitas manufaktur Indonesia yang dicerminkan dengan PMI ada di 52,6 untuk periode Januari. Lebih baik ketimbang Desember 2025 yang sebesar 51,2.

PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang berada di fase ekspansi, bukan kontraksi. Aktivitas manufaktur Indonesia sudah berada di area ekspansi selama enam bulan beruntun.

"Jadi ini mematahkan semua teori-teori ekonom yang sering diundang bahwa 'nggak ada gunanya injek [suntik] uang ke sistem, nggak ada gunanya kasih kebijakan fiskal karena demand sedang lesu.' Justru tugas otoritas fiskal moneter adalah memastikan demand tumbuh dengan instrumen yang ada," pungkasnya.

(red)

No more pages