Artinya, valuasi IHSG saat ini murah, bukan hanya dari sisi fundamental dan prospek, tapi juga jika disandingkan dengan bursa saham di negara lain.
“Kalau kita melakukan benchmark dengan AS, di Indonesia karena diskon turun jadi 15-16 kali. PBV 2 kali, kalau bursa lain start 3-5 kali,” kata David.
Sentimen Moody's
David juga menanggapi kekhawatiran terkait prospek ekonomi domestik dan outlook lembaga pemeringkat. David menyebut, diskusi yang dilakukan pada kuartal IV menunjukkan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan berpotensi meningkat pada awal tahun.
“Pernyataan Moody’s, kami lihat outlook negatif, ragu pertumbuhan kita bisa berjalan apakah plan Prabowo bisa berjalan baik. Kami lakukan diskusi kemarin, di Q4 kita baik tumbuh dan Q1 ada beberapa event bisa meningkatkan PDB bisa 5,2–5,3%. Bulan puasa, Lebaran, stimulus, ada tunjangan hari raya, ada pendekatan untuk meningkatkan investasi, government spending besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu program belanja pemerintah seperti MBG dengan alokasi Rp60 triliun dinilai akan memberi dampak pada kuartal I dan berpotensi lebih besar pada periode berikutnya. “Kalau besar, PDB signifikan dari Q3 tahun lalu ke Q4,” imbuhnya.
David menekankan, asosiasi yang dipimpinnya tidak melihat adanya isu signifikan dalam fundamental ekonomi nasional. Ia menilai pemerintah memiliki ruang untuk menjelaskan kondisi tersebut kepada pelaku pasar global.
“Kami dari asosiasi tidak ada isu signifikan, pemerintah bisa menjelaskan ke MSCI kita bakal rebound,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai arah kebijakan setelah penunjukan Purbaya sebagai menteri yang disebut memunculkan ekspektasi perubahan, David menyatakan dukungan kebijakan fiskal perlu diiringi kebijakan moneter agar transmisi ke sektor riil berjalan optimal.
“Kalau kita bicara ekonomi, konsumsi, investment, kalau semuanya rely government bekerja, apa yang dilakukan Purbaya, kebijakan fiskal harus didukung moneter. Kalau moneter di berbagai negara akan turunkan suku bunga,” katanya.
Ia menilai bank sentral di berbagai negara tengah melakukan pelonggaran untuk mendorong pertumbuhan. Di dalam negeri, upaya tersebut sudah terlihat meski efektivitasnya dinilai masih perlu diperbaiki.
“Bank sentral di dunia harus diboost. Kemarin sudah cukup baik di awal, tapi dilonggarkan langsung suntik cuma memang kurang direncanakan baik jadi efeknya tidak maksimal, tapi ada effortnya,” ujar David.
(dhf)




























