“Mereka memberikan panduan. Mereka tidak mengemudikan kendaraan dari jarak jauh. Waymo selalu bertanggung jawab atas tugas mengemudi dinamis,” ujar Pena dilansir dari The Strait Times, Rabu (11/2/2026).
Saat didesak lebih lanjut oleh Markey tentang lokasi para asisten manusia tersebut, Pena pun menjawab bahwa beberapa berada di AS dan yang lainnya di luar negeri. Kemudian menyebut para pekerja di luar negeri itu berada di Filipina, dia mengeklaim tak mempunyai angka pasti mengenai distribusinya.
Pengakuan tersebut langsung menimbulkan kekhawatiran dari Markey, yang menganggap persoalan ini sebagai masalah keselamatan, keamanan, dan ketenagakerjaan. “Keberadaan orang-orang di luar negeri yang memengaruhi kendaraan Amerika merupakan masalah keamanan,” kata dia.
Markey menambahkan, terdapat potensi keterlambatan informasi, ketidakpahaman terhadap kondisi jalan di AS, dan kerentanan keamanan siber. Pengakuan ini muncul kurang dari dua pekan seusai sebuah taksi robot Waymo menabrak seorang anak—yang mengalami luka ringan—di depan sebuah sekolah dasar di California pada 23 Januari 2026.
Menanggapi insiden tersebut, Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS telah memulai beberapa investigasi terhadap sejumlah insiden di mana kendaraan Waymo melintas di dekat bus sekolah saat siswa sedang naik atau turun. Di samping itu, kini perusahaan itu sudah mengoperasikan layanan kendaraan otonom di Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin.
Serta, perusahaan robotaxi rintisan milik Alphabet—induk perusahaan Google—tersebut telah mengumumkan rencana untuk berekspansi ke kota-kota lain seperti Boston, Dallas, dan Washington DC, sampai London, Inggris.
Menurut data terbaru yang tersedia pada awal 2026, armada kendaraan otonom Waymo, yang sebagian besar berupa taksi robot, diperkirakan berjumlah sekitar 2.500 unit.
(far)





























