Logo Bloomberg Technoz

Pada Selasa, saham BP anjlok setelah perusahaan itu mengatakan akan menghentikan buyback dan mencabut panduan jangka panjang terkait pembagian kepada pemegang saham.

Meski perusahaan-perusahaan minyak besar masih membukukan laba besar, arus kas — khususnya di Eropa — tergerus oleh penurunan harga minyak mentah sebesar 18% tahun lalu.

Selain itu, terdapat proyeksi luas bahwa pasar akan tetap kelebihan pasokan tahun ini seiring peningkatan produksi baik di dalam maupun di luar aliansi OPEC+.

“Pasokan minyak masih melimpah, sehingga pasar cenderung bergerak turun,” kata Chief Executive Officer Patrick Pouyanne, sembari menambahkan bahwa sanksi terhadap Rusia menyebabkan penumpukan minyak mentah negara tersebut di laut.

Meski ketegangan antara AS dan Iran baru-baru ini mendorong kenaikan harga minyak, perusahaan energi besar Eropa tengah berupaya menahan lonjakan utang, yang menekan kemampuan mereka untuk membayar imbal hasil kepada pemegang saham.

Laba bersih disesuaikan TotalEnergies turun 13% pada kuartal keempat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$3,84 miliar, sejalan dengan rata-rata estimasi analis sebesar US$3,81 miliar.

Buyback senilai US$750 juta tersebut dibandingkan dengan laju US$2 miliar pada tiga kuartal pertama tahun lalu.

Perusahaan menyatakan akan mengupayakan pembelian kembali saham senilai US$3 miliar hingga US$6 miliar sepanjang tahun ini.

Namun demikian, perusahaan mempertahankan dividen kuartalan di level €0,85 per saham.

TotalEnergies menyatakan mereka mengasumsikan harga acuan minyak Brent sebesar US$60 per barel untuk 2026, dan dapat menyesuaikan buyback sepanjang tahun tergantung pada pergerakan harga. Saat ini Brent diperdagangkan di kisaran US$69 per barel.

TotalEnergies mengatakan produksi hulu (upstream) diperkirakan tumbuh sekitar 3%, didukung oleh dimulainya proyek-proyek di Brasil, Irak, Qatar, Aljazair, dan Uganda.

(bbn)

No more pages