Ekonomi RI Kelihatannya Baik-baik Saja, Walau Ada Catatannya
Redaksi
10 February 2026 15:21

Bloomberg Technoz, Jakarta - Jika melihat deretan indikator makro yang beredar belakangan ini, perekonomian Indonesia pada awal 2026 sekilas tampak solid. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi relatif terkendali, dan optimisme kerap muncul dalam berbagai proyeksi resmi. Ekonomi terlihat mulai menggeliat.
Namun, gambaran tersebut berubah ketika lensa diarahkan ke sektor riil, khususnya melalui Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menggambarkan penjualan ritel. Data IPR justru menggambarkan kondisi rumah tangga yang justru terasa semakin sempit.
Data Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada Desember 2025, IPR memang masih tumbuh 3,5% secara tahunan (yoy). Angka ini menandakan konsumsi rumah tangga belum runtuh. Namun, lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,3% (yoy). Apalagi, penguatan penjualan pada akhir tahun cenderung didorong oleh faktor musiman, Natal dan Tahun Baru, bukan peningkatan daya beli yang sifatnya struktural.
Secara bulanan, penjualan eceran memang naik 3,1% (month-to-month/mtm) pada Desember, tetapi kenaikan ini bersifat sementara. Ketika memasuki Januari 2026, IPR justru diperkirakan terkontraksi 0,6% (mtm), seiring normalisasi konsumsi pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Kontraksi bulanan ini terjadi meski secara tahunan IPR Januari 2026 diproyeksikan melonjak 7,9% (yoy).
IPR Januari 2025 tercatat berada di 211,5, sementara di tahun 2026 proyeksinya berada di 228,3, dengan angka ini artinya lonjakan 7,9% itu bukan sinyal lonjakan aktivitas ekonomi, melainkan adanya efek basis rendah yang terjadi pada tahun lalu.
































