Pertumbuhan IPR yang tercatat pada Desember juga tidak memperlihatkan pola yang solid atau berkelanjutan. Sebab, pertumbuhan utama justru ditopang oleh kelompok tertentu seperti suku cadang dan aksesori, makanan dan minuman, serta barang rekreasi.
Sementara, kelompok lain seperti peralatan informasi dan komunikasi masih mencatat kontraksi tahunan. Hal ini dapat mengindikasikan adanya pola konsumsi di masyarakat yang cenderung selektif. Masyarakat agaknya masih fokus pada kebutuhan dasar dan konsumsi berbasis musiman daripada barang tersier seperti alat komunikasi dan informasi.
Ikat Pinggang Masih Ketat
Kondisi indeks penjualan riil sejalan dengan indeks keyakinan konsumen yang kemarin dirilis mengindikasikan hal serupa. Meski persepsi tetap positif terhadap kondisi saat ini terutama datang dari tiga indikator pembentuk IKE. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) naik menjadi 123,7, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) meningkat ke 109,9, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) menguat ke 111,8.
Tapi keyakinan ini tidak berlaku untuk semua kelas ekonomi yang dipilah berdasarkan kelompok pengeluarannya. Berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan keyakinan terjadi hampir di semua segmen, kecuali kelompok dengan pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta per bulan yang justru mencatat penurunan indeks.
Segmen ini konsisten menjadi anomali, baik pada IKK, IPSI, maupun IPDG, dan bisa mencerminkan tekanan biaya hidup atau stagnasi pendapatan kelas menengah bawah yang lebih sensitif terhadap inflasi.
Kemarin, Bank Indonesia melalui Laporan IKK juga menyebut bahwa pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi tercatat 72,3%, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu 74,3%.
Artinya, ada penurunan konsumsi sejalan dengan data IPR di kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang terkontraksi 3,7% secara bulanan pada Januari 2026. Pada Desember 2025, kelompok ini tercatat 2,7 dan diperkirakan terkontraksi menjadi 1 pada Januari 2026.
Di sisi lain, rasio tabungan justru meningkat, terutama bagi kelompok pengeluaran Rp1-2 juta dan lebih dari Rp5 juta yang tercatat naik masing-masing menjadi 17,4% dari 14,2% dan 17,5% dari 16,4% terhadap pendapatan. Sedangkan kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta juga tercatat naik pada Desember menjadi 15,7%.
Sektor Bisnis Terus Genjot
Di saat konsumen cenderung mengetatkan ikat pinggang, sektor bisnis justru menggeber produksinya. Ini tercermin dalam aktivitas manufaktur Indonesia. S&P Global mengumumkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tercatat naik menjadi 52,6 pada Januari 2026 dari bulan Desember 2026 sebesar 51,2.
Kenaikan PMI yang mencerminkan optimisme ini bergerak dari sisi pasokan, tapi sejatinya belum sepenuhnya tertopang oleh peningkatan permintaan yang kuat. Kondisi ini dapat menciptakan kondisi pemulihan cenderung timpang.
Ini juga nampak dari inflasi yang tercatat tumbuh tinggi 3,55%, dengan komoditas yang paling memberi andil terbesar adalah tarif listrik. Dengan adanya subsidi listrik pada periode sama di tahun lalu, memberikan dampak basis efek rendah pada laju inflasi ini, bukan lantaran ada permintaan yang tinggi.
Tanpa pemulihan dari sisi daya beli yang dapat mengerek inflasi (demand pull inflation), sejatinya ekspansi manufaktur mungkin hanya bertumpu pada pesanan ekspor atau pengadaan untuk persediaan jangka pendek, apalagi faktor musiman bulan Ramadan dan Idul Fitri, yang umumnya mengerek permintaan, akan datang sebentar lagi .
Dari data-data terlihat bahwa produksi memang tumbuh, dan indikator makro membaik, namun itu hanya dipermukaan, sementara fondasi masih cenderung rapuh akibat belum adanya pemulihan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah.
Kelas Menengah Masih Terjepit
Kelas menengah yang tercatat di kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta per bulan menjadi gambaran mayoritas konsumen Indonesia, saat ini masih terjepit. Seperti data yang ditunjukkan laporan Indeks Keyakinan Konsumen di atas.
Sementara jika mengacu pada klasifikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah kelas menengah Indonesia justru makin terlihat gemuk sekali. Kelas menengah versi BPS merupakan kelompok masyarakat dengan pengeluaran bulanan sebesar Rp2,04 juta-Rp9,9 juta. Sementara, mereka yang berada di kelas menengah-atas memiliki pengeluaran di atas Rp4 juta.
Dengan besarnya jumlah kelas menengah, kelompok ini kerap jadi mesin konsumsi dan jadi bantalan stabilitas saat perekonomian sedang goyah. Porsi konsumsi pengeluaran kelompok ini mencapai 81,49% dari total konsumsi masyarakat.
Sehingga, jika daya beli di kelompok ini tidak segera dipulihkan, dampaknya akan merambat ke berbagai sektor industri, bukan hanya manufaktur tapi juga sektor transportasi dan jasa. Kelompok kelas ini butuh pemulihan dalam bentuk penciptaan lapangan pekerjaan formal dengan upah layak serta perluasan jaring pengaman.
Sebab, apabila tekanan ini masih terus berlangsung kelas menengah akan mengubah pola konsumsinya, yang sebenarnya saat ini sudah mulai terlihat, dengan pemangkasan di beberapa kelompok belanja non-esensial seperti Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Peralatan Informasi dan Komunikasi.
Meski pada Januari 2026 penjualan kendaraan tercatat naik 7% secara tahunan dengan capaian 66.447 unit wholesale dan naik 4,5% 64.076 unit kendaraan dari penjualan ritel, namun penjualan ini tak sepenuhnya ditopang oleh konsumen kelas menengah. Bisa jadi kenaikan penjualan kendaraan ini lebih banyak disokong segmen konsumen menengah-atas dan korporasi.
Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, yang dalam data justru mencatat kenaikan rasio tabungan, masih memiliki ruang finansial untuk membeli kendaraan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun diversifikasi aset konsumsi. Ini menjelaskan mengapa penjualan mobil dapat tetap tumbuh, meski konsumsi harian melemah.
(dsp/aji)
































