Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi rupiah belum bisa melesat seperti beberapa mata uang di pasar Asia. Posisi rupiah saat ini masih terbebani oleh persepsi risiko yang muncul pasca penurunan outlook kredit dari Moody's. Meski pekan lalu angka pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan positif, tetapi pasar membaca kondisi perekonomian saat ini dengan sudut pandang yang berbeda. 

Persepsi risiko yang makin diperkuat oleh penurunan outlook kredit oleh Moody's akan membawa dampak bagi aset bermata uang rupiah.  Pasalnya, turunnya outlook bukan semata soal risiko penurunan peringkat (rating), melainkan menjadi tanda bahwa ruang kebijakan Indonesia ke depan dipersepsikan juga akan makin sempit. 

Sentimen ini membawa persepsi terhadap aset berdenominasi rupiah dan pasar menjadi lebih sensitif terhadap isu disiplin anggaran, kebutuhan pembiayaan, dan ketergantungan pada arus modal portofolio.

Situasi ini menjelaskan mengapa setiap penguatan rupiah cenderung cepat terkoreksi. Pasar belum melihat katalis domestik yang cukup kuat untuk mendorong apresiasi berkelanjutan, meski faktor eksternal sementara bersahabat. Dengan kata lain, rupiah masih sangat “bergantung cuaca global”.

Namun, Bank Indonesia (BI) mengatakan akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan laju inflasi. Meski cadangan devisa sempat susut sebanyak US$1,9 miliar, lantaran intervensi pasar yang dilakukan pada Januari lalu, tetapi posisinya saat ini berada di US$154,6 miliar.

Posisi ini masih setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa ini masih berada di atas standar kecukupan internasional. 

(dsp/aji)

No more pages