Luas awal yang ditetapkan pada 1997 tercatat selebar 6.560 kilometer persegi (km2), tetapi dengan beberapa pelepasan kini menjadi 130.252 hektare (ha) yang berlokasi di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal.
Area operasional tambang emas Martabe dalam konsesi tersebut terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas area 509 ha per Januari 2022.
Sumber daya bijih di Martabe per 30 Juni 2024 diperkirakan sebesar 6,1 juta ons emas dan 59 juta ons perak. Sementara itu, cadangan yang dimiliki, tercatat sebesar 3,5 juta ons emas dan 32 juta ons perak.
Selain tambang Martabe, Indonesia turut memiliki beberapa tambang emas raksasa di antaranya Grasberg, Tambang Emas Tujuh Bukit, Tambang Emas Pani, Tambang Emas Batu Hijau, Tambang Emas Pobaya hingga Tambang Emas Toka Tindung.
Tambang Grasberg
Ditemukan oleh geolog asal Belanda dan diberi nama Ertsberg (gunung bijih), tambang ini terletak di ketinggian 4.100 meter di atas permukaan laut, dekat Puncak Jaya. Tambang ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia.
Saat ini, PTFI mengandalkan tiga tambang yang dimiliki yakni; Grasberg Block Cave yang menghasilkan sekitar 140.000 ton bijih sehari, DMLZ sekitar 70.000 ton bijih sehari, dan Big Gossan 7.000 ton bijih per hari dengan kadar tembaga yang lebih tinggi.
Adapun, volume produksi tembaga Freeport Indonesia sepanjang 2025 tembus 1,01 miliar pon. Besaran tersebut tercatat lebih rendah 44% jika dari produksi tembaga Freeport 2024 sebesar 1,8 miliar pon.
Berdasarkan studi terbaru, cadangan tembaga yang dapat diekstraksi hingga 2041 diprediksi meningkat menjadi 8 miliar pon dan emas menjadi 8 juta ons.
Tambang Batu Hijau
Batu Hijau memiliki cadangan 16,6 miliar pon tembaga dan 22,5 juta ons emas. Tambang tembaga dan emas ini dikelola oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), lewat anak usahanya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Amman Mineral juga tengah mengeksplorasi bagian-bagian lain di wilayah izin usaha pertambangan khusus (IUPK), salah satunya prospek eksplorasi Elang yang mulai dilakukan sekitar 2027.
Cebakan Elang bakal menggantikan posisi produksi tambang Batu Hijau yang akan habis pada 2030.
Proyek tersebut diketahui memiliki potensi besar, dengan estimasi sumber daya 12,945 juta pon tembaga, 19,7 juta ons emas dengan potensi menghasilkan 300—430 juta pon tembaga.
Selain itu, eksplorasi Elang juga memiliki potensi sumber daya 0,35—0,60 juta ons emas per tahun.
Tambang Tujuh Bukit
Tambang emas ini dimiliki oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) lewat PT Bumi Suksesindo (BSI).
BSI mengoperasikan Tambang Emas Tujuh Bukit berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Operasi dan Produksi yang dimiliki sejak 2012 di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.
Tambang ini mulai menambang bijih pertamanya pada 2016 dan menghasilkan emas perdananya pada awal 2017.
Proyek ini merupakan salah satu deposit porifiri tembaga-emas terbesar yang belum dikembangkan di dunia, dengan sumber daya yang diperkirakan mencapai 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas terkandung.
Tambang Pani
Tambang Pani dioperasikan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Tambang ini terletak di Gorontalo, Sulawesi.
Proyek ini menjadi salah satu tambag emas primer terbesar di Indonesia dengan sumber daya lebih dari 7 juta ounces emas dan umur tambang multidekade.
Proyek ini dirancang sebagai tambang terbuka berbiaya rendah, dengan kapasitas pengolahan hingga 19 juta ton bijih per tahun.
Tambang Pobaya
Tambang emas Pobaya dikendalikan oleh PT Citra Palu Minerals (CPM), anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
CPM memiliki hak Kontrak Kerja atas konsesi pertambangan seluas 85.180 hektar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Indonesia.
Area kontrak CPM terdiri dari 5 blok terpisah, di mana prospek emas Poboya adalah yang paling menjanjikan.
Izin pembangunan dan produksi CPM disetujui pada November 2017 dengan jangka waktu pembangunan 3 tahun dan jangka waktu produksi 30 tahun (hingga 2050).
Tambang Pobaya memiliki cadangan emas sebesar 34,1 juta ton ore dengan kadar 3,2 gram/ton Au. Adapun, sumber daya dari prospek ini sebesar 40,2 juta ton dengan kadar 3,5 gram per ton.
Tambang Toka Tindung
Toka Tindung adalah pertambangan emas terbuka yang lokasinya terletak sekitar 35 kilometer Timur Utara dari Manado di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.
Tambang ini beroperasi menggunakan metode pertambangan terbuka (open pit), terdiri dari Toka Tindung di bagian Koridor Timur (Eastern Corridor), serta Araren dan Kopra di bagian selatan, dari bagian Koridor Timur.
Tambang emas ini dioperasikan dengan kontrak karya yang dipegang oleh PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN), anak usaha PT Archi Indonesia Tbk (ARCI).
Per 31 Desember 2020, sumber daya mineral di Tambang Emas Toka Tindung berjumlah 139,1 juta ton, dengan head grade rata-rata 1,2 g/t (Au) dan 2 g/t (Ag), untuk 5.528 koz emas dan 10.953 koz perak.
Sementara itu, cadangan bijih di tambang emas Toka Tindung berjumlah 98,3 juta ton, dengan head grade rata-rata 1,23 g/t (Au) dan 2,57 g/t (Ag), untuk 3.884 koz emas dan 8.118 koz perak.
(naw)






























