Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Prabowo menambahkan, pemerintah turut mendorong perusahaan nasional untuk berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis Australia.

Prabowo menambahkan BPI Danantara relatif siap untuk bermitra dengan perusahaan Australia di sektor mineral kritis nantinya.

“Danantara siap bekerja sama dengan para mitranya di Australia untuk menjajaki peluang co-investment dan dalam berbagai bentuk kemitraan lainnya,” tuturnya.

Belakangan, pemerintah tengah menjajaki kerja sama pembelian konsentrat litium dari Australia untuk memperkuat bahan baku ekosistem baterai kendaraan listrik domestik.

Adapun, impor litium Indonesia dari Australia mencapai sekitar 80.000 ton per tahun. Rencana kerja sama dagang dan investasi yang lebih intensif antar kedua diperkirakan bakal ikut mengerek nilai impor litium tersebut.

Impor dari Australia selama ini digunakan untuk memasok kawasan industri di Morowali sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bakal membuka peluang negosiasi tambahan untuk memperluas kerja sama di sektor mineral kritis lewat pakta dagang atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Australia.

“Nanti critical mineral tentunya [akan ada kesepakatan]. Kita bicara mengenai EV ecosystemTadi Pak Presiden [Prabowo Subianto] juga bicara mengenai EV ecosystem,” kata Airlangga di Istana Negara, Kamis (15/5/2025).

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan Prabowo Subianto di Kertanegara, Senin (14/10/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

“Sekarang kita targetnya [negosiasi] CEPA [dengan Australia]. Kita memasukkan critical mineral di dalamnya.”

Hanya saja, Airlangga tidak berkomentar ihwal kemungkinan nilai dan volume impor litium dari Australia berpeluang meningkat nantinya.

“Nanti lihat, tergantung kapasitas pabriknya. Kan ada yang melakukan ekspansi. Jadi kalau khusus untuk baterai, kita punya lithium-based, kita punya [nickel]-based."

Airlangga menambahkan Indonesia menyasar kenaikan volume perdagangan hingga 100% dengan Australia dengan adanya CEPA.

Lewat rilis terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih mencatat defisit neraca dagang dengan Australia mencapai US$5,65 miliar sepanjang 2025.

Sejumlah komoditas penyumbang defisit itu di antaranya serealia, bahan bakar mineral, bijih logam, terak dan abu.

(naw)

No more pages