Fokus Huayou
Lebih lanjut, Stevanus menyatakan perseroan bakal mengembangkan baterai EV sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Perseroan bakal terus memantau perilaku konsumen atau consumer behavior agar teknologi yang dikembangkan dapat menyesuaikan kebiasaan masyarakat.
“Artinya kan misalnya pasar Indonesia itu butuh baterai yang kayak gimana sih gitu kan nanti kita akan lihat. Oh, kebutuhan masyarakat Indonesia itu ternyata kayak gini berarti kita perlu merancang baterai yang seperti ini. Ya kan sehingga memang satu kayak tadi apa namanya tahan lama misalnya, fast charging katakanlah kan, apa namanya murah, terjangkau, kualitasnya bagus,” tegas dia.
Sebelumnya, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif optimistis pasar baterai berbasis nikel akan cerah.
Dia menyebut sejatinya volume permintaan baterai NMC meningkat karena market size baterai turunan nikel itu juga meningkat tajam.
“Untuk itu, apabila kita mengacu pada teknologi per hari ini saja, kita masih sangat optimistis bahwa kita bisa memasarkan baterai berbasis katoda nikel,” kata Aditya dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Aditya juga mengungkapkan dalam perkembangan teknologi pada masa depan, baterai yang akan terkomersialisasi adalah SiB. Dalam skenario tersebut, unsur litiumnya akan diganti oleh natrium agar lebih murah.
“Per hari ini, teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium ion ini, salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel,” sebut Aditya.
Setelah baterai jenis sodium-ion battery, dia menyebut akan ada solid state battery atau baterai ion litium biasa dengan menggunakan elektrolit padatan.
Untuk baterai jenis ini, dia pun mengatakan baterai berbasis nikel masih menjadi kandidat utama dalam pengembangan teknologi tersebut.
“Jadi, kami cukup optimistis bahwa ke depan, nikel Indonesia masih tetap akan bisa dipasarkan di pasar global,” ungkap Aditya.
Menurut laporan BMI, lengan riset Fitch Solutions dari Fitch Group, salah satu permasalahan lambatnya adopsi EV di pasar global selain China adalah keterjangkauan harga baterai.
Hanya China yang saat ini memimpin pemanfaatan baterai LFP untuk industri EV-nya. Penggunaan baterai LFP di China menguasai lebih dari 70% pangsa pasar baterai kendaraan listrik negara tersebut.
“Dengan memanfaatkan biaya litium yang lebih rendah dari nikel dan kobalt, produen China telah mampu menawarkan sejumlah EV entry-level yang sangat terjangkau seperti BYD Seagull yang dibanderol dengan harga sekitar CNY56.800 [sekitar US$7.800],” papar BMI.
BMI menyebut 65% EV di China Daratan lebih terjangkau daripada mobil berbahan bakar fosil atau internal combustion engine (ICE). Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat (AS) dan Jerman tidak sampai 30% EV lebih terjangkau daripada ICE.
“Kami yakin bahwa peningkatan adopsi baterai LFP akan menjadi kunci untuk meningkatkan adopsi EV di pasar global,” papar lembaga riset tersebut.
(azr/wdh)





























