Logo Bloomberg Technoz

Edukasi Pasar Modal

Pasar Modal Indonesia Menguat, Emiten dan Obligasi Tumbuh


Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan penguatan yang semakin konsisten setelah melewati dinamika tahun politik pada periode sebelumnya. Stabilitas yang mulai terbentuk menjadi fondasi penting bagi meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang kredibel.

Pemulihan ini tercermin dari meningkatnya aktivitas penerbitan efek di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang 2025, PT Bursa Efek Indonesia mencatat total 858 penerbitan efek, meningkat 26 persen dibandingkan 2024 yang sebanyak 680 penerbitan. Angka tersebut menandai kembalinya gairah pasar modal seiring membaiknya sentimen ekonomi.

Peningkatan penerbitan efek mencerminkan semakin aktifnya perusahaan dalam memanfaatkan instrumen pasar modal. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pasar modal kembali menjadi pilihan strategis untuk mendukung ekspansi dan penguatan struktur permodalan perusahaan di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Dari sisi pencatatan saham, BEI mencatat sebanyak 26 perusahaan berhasil melantai di bursa sepanjang 2025. Aktivitas Initial Public Offering ini menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk menjadi emiten publik tetap terjaga, bahkan cenderung meningkat seiring kondisi pasar yang lebih stabil.

Secara sektoral, Basic Materials dan Consumer Non-Cyclicals menjadi sektor paling dominan dalam pencatatan saham. Masing-masing sektor mencatatkan empat perusahaan baru, mencerminkan daya tarik sektor-sektor dengan fundamental kuat dan permintaan yang relatif stabil.

Sektor Basic Materials berhasil menghimpun dana sebesar Rp5,1 triliun, sementara sektor Consumer Non-Cyclicals membukukan dana terhimpun Rp2,6 triliun. Capaian ini mengindikasikan preferensi investor terhadap sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap fluktuasi ekonomi.

Selain jumlah emiten baru, kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal juga mengalami peningkatan signifikan. Hal ini tercermin dari rata-rata dana yang dihimpun melalui pencatatan saham yang melonjak dari Rp348,7 miliar pada 2024 menjadi Rp696,1 miliar pada 2025.

Peningkatan rata-rata dana terhimpun tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO memiliki skala usaha yang lebih matang. Fundamental bisnis yang lebih kuat menjadi daya tarik utama bagi investor untuk menempatkan dana dalam jumlah yang lebih besar.

Obligasi dan Sukuk Cetak Rekor Sepanjang 2025

Tidak hanya pasar saham, aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk juga menunjukkan penguatan signifikan sepanjang 2025. Hingga 31 Desember 2025, tercatat sebanyak 181 emisi dari 79 perusahaan dengan total dana terhimpun mencapai Rp216,64 triliun.

Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, baik dari sisi jumlah emisi maupun nilai dana terhimpun dalam satu tahun. Kondisi ini menegaskan semakin pentingnya peran pasar obligasi dan sukuk sebagai sumber pendanaan jangka menengah dan panjang.

Dari sisi komposisi, penerbitan obligasi konvensional masih mendominasi dengan 117 pencatatan. Diikuti oleh sukuk mudharabah dengan 25 pencatatan, yang menunjukkan meningkatnya minat terhadap instrumen pembiayaan berbasis syariah.

Secara sektoral, sektor keuangan menjadi kontributor terbesar dalam penerbitan obligasi dan sukuk. Sepanjang 2025, sektor ini mencatatkan 40 emisi dengan total dana terhimpun mencapai Rp125,59 triliun.

Dominasi sektor keuangan mencerminkan kuatnya kebutuhan pendanaan untuk mendukung ekspansi kredit dan pembiayaan. Hal ini juga menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen pendanaan yang terstruktur dan memiliki profil risiko yang terukur.

Meski peluang pasar modal semakin terbuka, keberhasilan perusahaan untuk masuk ke bursa tetap memerlukan kesiapan yang matang. Aspek keuangan, tata kelola perusahaan, struktur organisasi, serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi prasyarat utama yang harus dipenuhi calon emiten.

Selain faktor internal, perusahaan juga perlu mempertimbangkan kondisi eksternal seperti stabilitas ekonomi domestik, arah kebijakan pemerintah, serta dinamika global. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi timing dan strategi perusahaan dalam memanfaatkan pasar modal.

Untuk mendukung peningkatan kualitas calon emiten, BEI secara aktif menyediakan berbagai program pembinaan. Salah satu program unggulan adalah IDX Incubator yang ditujukan bagi perusahaan yang tengah mempersiapkan diri menuju Initial Public Offering.

Saat ini, IDX Incubator membuka pendaftaran seleksi perusahaan binaan baru hingga 8 Maret 2026. Program ini dirancang untuk membantu perusahaan memperkuat kesiapan bisnis, meningkatkan tata kelola, serta memperdalam pemahaman terhadap mekanisme pasar modal.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menyampaikan bahwa tujuan program ini tidak hanya mendorong jumlah perusahaan yang melantai di bursa. Fokus utama juga diarahkan pada kualitas dan keberlanjutan perusahaan tercatat.

“IDX Incubator tidak hanya bertujuan mendorong peningkatan jumlah perusahaan yang melantai di bursa, tetapi juga memastikan bahwa perusahaan yang masuk ke pasar modal memiliki kesiapan bisnis, tata kelola, serta pemahaman regulasi yang memadai. Dengan fondasi yang kuat sejak awal, kami berharap perusahaan tercatat dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi investor maupun perekonomian nasional,” ujar Listyorini Dian Pratiwi.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, BEI terus memperkuat ekosistem pasar modal yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lebih banyak perusahaan tercatat yang berkualitas dan berdaya saing.

Memasuki tahun 2026, peluang bagi perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal diperkirakan semakin terbuka. Stabilitas pasar yang relatif terjaga serta meningkatnya kualitas emiten menjadi modal penting bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.