Logo Bloomberg Technoz

“Per hari ini, teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium ion ini, salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel,” sebut Aditya.

Baterai sodium-ion CATL./Bloomberg-Krisztian Bocsi

Setelah baterai jenis sodium-ion battery, dia menyebut akan ada solid state battery atau baterai ion litium biasa dengan menggunakan elektrolit padatan.

Untuk baterai jenis ini, dia pun mengatakan baterai berbasis nikel masih menjadi kandidat utama dalam pengembangan teknologi tersebut.

“Jadi, kami cukup optimistis bahwa ke depan, nikel Indonesia masih tetap akan bisa dipasarkan di pasar global,” ungkap Aditya.

Inovasi

Di sisi lain, Aditya juga mengungkapkan IBC tengah merancang inovasi agar industri pengolahan baterai berbasis nikel dapat efisien. Salah satu caranya dengan memotong  rantai industri pengolahan baterai.

Ke depannya, kata Aditya, IBC tidak hanya menjalankan investasi tetapi dapat menjadi pusat teknologi pengembangan baterai. 

Walhasil, IBC dapat menekan biaya operasional sehingga harga NMC akan lebih murah. Dia juga menekankan ke depannya IBC tidak bisa bergantung pada volatilitas dari harga nikel.

“Oleh karena itu di dalam strategy house-nya IBC kami menekankan pentingnya ownership dari teknologi. Bagaimana supaya kita bisa bersaing di pasar global tentunya kita harus cost competitive,” ujar Adit.

“Memang ke depan kalau kita bicara hilirisasi itu makin ke hilir kompetisi akan makin berat, makin kuat. Untuk itu, tidak bisa kita abaikan lagi kita harus melakukan inovasi dan IBC berkomitmen untuk memulai melakukannya.” 

Kelemahan baterai garam./dok. BMI

Menurut laporan BMI, lengan riset Fitch Solutions dari Fitch Group, salah satu permasalahan lambatnya adopsi EV di pasar global selain China adalah keterjangkauan harga baterai.

Hanya China yang saat ini memimpin pemanfaatan baterai LFP untuk industri EV-nya. Penggunaan baterai LFP di China menguasai lebih dari 70% pangsa pasar baterai kendaraan listrik negara tersebut.

“Dengan memanfaatkan biaya litium yang lebih rendah dari nikel dan kobalt, produen China telah mampu menawarkan sejumlah EV entry-level yang sangat terjangkau seperti BYD Seagull yang dibanderol dengan harga sekitar CNY56.800 [sekitar US$7.800],” papar BMI, Juli 2025.

BMI menyebut 65% EV di China Daratan lebih terjangkau daripada mobil berbahan bakar fosil atau internal combustion engine (ICE). Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat (AS) dan Jerman tidak sampai 30% EV lebih terjangkau daripada ICE. 

“Kami yakin bahwa peningkatan adopsi baterai LFP akan menjadi kunci untuk meningkatkan adopsi EV di pasar global,” papar lembaga riset tersebut.

(mfd/wdh)

No more pages