Lonjakan inflasi kali ini terjadi di saat rupiah sedang loyo. Meski secara harian masih terjadi penguatan terbatas, sejatinya rupiah masih berada dalam tekanan dan tergerus 0,63% sejak awal tahun.
Masih Naik Lagi
Lonjakan inflasi bulan Januari ini belum final, proyeksi inflasi bulan Februari akan lebih tinggi lantaran adanya dorongan faktor musiman seperti perayaan Ramadan. Secara historis, musim perayaan Ramadan hampir selalu membuat lonjakan permintaan barang dan jasa sehingga memicu laju inflasi lebih tinggi.
“Kami memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat pada Februari, dengan inflasi tahunan berpotensi mencapai 4,9%, sementara inflasi inti diperkirakan tetap lebih moderat, seiring koreksi harga logam mulia global, termasuk emas,” kata Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist dari Mega Capital Sekuritas dalam catatannya, Senin (2/2/2026).
Meski ada efek musiman, Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg, memperkirakan tekanan inflasi akan mereda. “Ke depan, kami memperkirakan tekanan inflasi akan mereda. Permintaan kredit dari rumah tangga dan dunia usaha masih terbatas, sementara gejolak pasar saham berpotensi menekan sentimen. Inflasi inti diperkirakan tetap moderat dan inflasi umum kembali dalam kisaran target kuarta II-2026,” kata Henderson dalam catatannya.
Inflasi Impor
Lonjakan inflasi yang terjadi semakin terbebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejak awal tahun hingga sekarang, nilai rupiah sudah susut 0,63% dan bergerak di rentang Rp16.700-Rp16.850/US$.
Dengan nilai tukar rupiah yang masih tertekan, ada risiko inflasi impor alias imported inflation, terutama melalui harga barang konsumsi dan energi yang umumnya mengalami lonjakan permintaan saat musim Ramadan dan Idul Fitri.
Meski pada musim Ramadan tahun lalu terjadi kelesuan konsumsi dengan angka penjualan ritel yang turun sebesar 0,5% secara tahunan, namun secara keseluruhan tetap ada perubahan pola konsumsi dan permintaan energi selama musim ini. Dalam catatan BPS, pengeluaran rumah tangga setidaknya meningkat 20-30% selama Ramadan.
BPS mencatat impor migas naik sebesar 1,71% menjadi US$3,35 miliar, impor non-migas juga naik 12,46% mencapai US$20,48 miliar, dan impor barang konsumsi tercatat US$2,41 miliar atau naik tipis 4,56%.
Perekonomian Indonesia yang masih digerakkan dengan aktivitas impor dapat memicu imported inflation saat harga rupiah sedang lesu seperti saat ini.
Namun, ekonom Bloomberg memperkirakan masih ada peluang inflasi tahun ini berada dalam kisaran target BI di rentang 1,5-2,5% jika BI mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi lebih lama.
Namun untuk saat ini, setidaknya pada kuartal I-2026, BI Rate sepertinya belum dimungkinkan untuk turun lantaran pertimbangan rupiah dan inflasi. BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur bulanan pada 18-19 Februari mendatang.
BI Rate Longgar atau Ketat?
Sejak awal tahun, terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah lantaran sentimen domestik yang tak kunjung mereda. Belum mampu rebound dan menguat secara signifikan, kini tekanan datang dari pasar saham lantaran surat peringatan dari MSCI dan membuat IHSG anjlok ke bawah 8.000 dengan arus modal asing keluar sebanyak US$830,6 juta.
Efek MSCI juga menjalar ke pasar surat utang dan menyebabkan tekanan jual dengan aliran dana asing yang keluar mencapai US$140,6 juta. Hal ini membuat otoritas moneter rasanya tak punya alasan untuk menurunkan BI Rate dalam waktu dekat seperti yang diharapkan otoritas fiskal.
Dalam konteks ini, BI berada dalam posisi serba terbatas. Di satu sisi, inflasi kembali mendekati batas atas target membuat ruang pelonggaran kebijakan menjadi sempit dalam jangka pendek. Di sisi lain, bank sentral juga berat untuk bersikap hawkish, terutama dengan adanya burden sharing yang membuat otoritas moneter juga harus andil dalam percepatan pertumbuhan ekonomi.
Dua bulan ke depan akan menjadi masa kritis bagi rupiah dan akan membuat BI mempertahankan BI Rate di level tinggi. Sebab, dengan kondisi perlambatan ekonomi saat ini, sulit bagi BI bersikap hawkish dengan melakukan pengetatan suku bunga. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin terkontraksi.
Bahkan, mungkin ada potensi kenaikan BI Rate lagi secara tidak terduga, terutama jika pelemahan rupiah semakin dalam dan menguras cadangan devisa.
BI Rate pernah berada di rentang 6-6,25% pada 2024 lantaran inflasi masih berada di angka 4%. Lalu, pada April 2025 BI juga menahan suku bunga 5,75% lantaran pelemahan rupiah sangat tajam ke Rp16.870/US$ pada 4 April 2025 dan menggerus cadangan devisa.
Jika inflasi inti terjaga pasca musim perayaan Ramadan dan Idul Fitri, atau di periode kuartal II-2026, akan memungkinkan BI lebih akomodatif untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi tahun ini.
(dsp/aji)


























