Dalam perdagangan intraday, harga emas dunia bahkan sempat ambrol lebih dari 12%.
Ambruknya harga emas dunia terjadi usai kenaikan delapan hari beruntun. Selama delapan hari tersebut, harga melambung hampir 18%.
Harga emas pun sempat di atas US$ 5.500/troy ons dalam perdagangan intraday pada 28 Januari. Ini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa.
Lonjakan harga emas membuat investor sepertinya sudah begitu ‘gatal’ untuk mencairkan cuan. Emas pun mengalami tekanan jual yang masif, sehingga harga terbanting keras ke bawah.
Perkembangan di Amerika Serikat (AS) juga menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Presiden Donald Trump akhirnya mengumumkan nama Kevin Warsh sebagai calon Gubernur Bank Sentral Federal Reserve yang akan menggantikan Jerome ‘Jay’ Powell.
Warsh dikenal sebagai sosok yang getol memerangi inflasi. Ini menimbulkan persepsi bahwa di bawah komando Warsh sepertinya suku bunga acuan bisa saja sulit turun atas nama meredam laju inflasi.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
“Langkah Trump mengumumkan Warsh sebagai Gubernur The Fed berikutnya positif bagi dolar AS dan menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Ini diperparah dengan aksi rebalancing setelah selama 2-3 pekan terakhir konsensus di pasar adalah menjual dolar AS dan memborong emas,” terang Aakash Doshi, Global Head of Gold and Metals Strategy di State Street Investment Management, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)



























