Dia meyakini pengembangan Proyek Titan dapat berjalan lebih cepat, usai perseroan bersama Antam dan konsorsium Huayou meneken kerangka kerja sama.
“Kami juga ingin menekankan bahwa nanti suatu saat nanti kita juga perlu memiliki baterai yang memang kita betul-betul produksi sendiri gitu,” kata dia.
Di sisi lain, dia menargetkan kerja sama yang dilakukan dengan konsorsium asal China tersebut dapat membuat perusahaan lebih cepat mempelajari pengembangan teknologi pembuatan pabrik baterai mobil listrik.
“Jadi kami punya komitmen tinggi juga terhadap pengembangan teknologi yang nantinya juga ownership-nya harapannya di Indonesia gitu,” ujar dia.
IBC dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) baru saja menandatangani kerangka kerja sama atau framework agreement proyek Titan bersama dengan konsorsium Huayou di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Konsorsium pimpinan Huayou dengan nama HYD Investment Limited itu terdiri dari Huayaou, EVE Energy Co., Ltd. dan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ).
Joint feasibility study (FS) proyek tersebut ditargetkan rampung pada tahun ini, setelah itu akan terdapat perjanjian kerja sama definitif yang bakal diteken untuk pengembangan Proyek Titan.
Proyek Omega
Sebelumnya, IBC sempat berencana mengakuisisi 5% saham PT Hyundai–LG Indonesia (HLI) Green Power. Rencana investasi sisi hilir industri baterai ini disebut dengan Proyek Omega.
VP Commercial and Marketing IBC Bayu Hermawan mengatakan perseroan masih terus berkomunikasi dengan HLI Green Power agar holding BUMN sektor industri baterai tersebut bisa terlibat langsung di Proyek Omega.
“Sebenarnya masih kita terus dalami ya dengan teman-teman HLI dan sebagainya. Jadi komunikasi sih saya rasa terus berjalan, kita coba komunikasikan,” ujarnya saat ditemui di sela agenda RE: Invest Indonesia, Kamis (24/4/2025).
Proses komunikasi IBC dengan HLI Green Power juga dibantu oleh Satgas Hilirisasi yang diketuai oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
“Jadi kita juga ada meeting dan monitoring juga dengan teman-teman Satgas Hilirisasi. [...] Ini cuma strategic level-nya saja sebenarnya.”
Pabrik sel baterai HLI Green Power tersebut dirancang dengan kapasitas produksi 30 WGh, tetapi tahap awal yang baru berjalan sebanyak 10 Gwh.
Fasilitas produksi yang saat ini telah terbangun di Karawang New Industry City (KNIC) merupakan fase pertama dari dua fase yang telah direncanakan oleh HLI Green Power.
Pembangunan fase pertama ini menelan investasi senilai US$1,1 miliar (sekitar Rp50,39 triliun asumsi kurs saat ini), dengan kapasitas produksi tahap awal sebesar 10 GWh.
(azr/naw)




























